Selasa, 13 Mei 2014

Menjelajahi Sejarah Panjang Prancis

Koran Sindo, 13 April 2014

Judul Buku: Paris; Sejarah yang Tersembunyi
Penulis: Andrew Hussey
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, Februari 2014
Tebal: 591 Halaman

Keanggunan arsitektur kota, keelokan para perempuannya, serta kehidupan gemerlap para bangsawan, demikian citra dan ilusi yang ditimbulkan Paris. Akan tetapi, ilusi paling kuat yang diciptakan oleh ibukota Prancis ini adalah sejarahnya.

Setidaknya demikian menurut berjudul lengkap Paris; Sejarah yang Tersembunyi ini. Ditulis oleh Andrew Hussey, buku ini berusaha memaparkan kisah Paris dari sudut pandang “kelas-kelas berbahaya”, sebuah istilah yang digunakan para sejarawan Prancis untuk mendeskripsikan unsur-unsur marginal dan subversif di kota ini yang catatan pengalamannya bertentangan dengan sejarah resmi. 

Paris boleh saja dianggap sebagai ibukota dunia bagi politik, agama, dan kebudayaan. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah kota Paris sebagian besar ditempa oleh kesulitan hidup yang dialami para penduduknya atau petites gens (rakyat jelata). Paris merupakan kota yang menjadi tempat revolusi rakyat, terutama setelah mengalami konflik berdarah selama berabad-abad.

Berasal dari nama sebuah suku di tepian sungai Seine yang tiba di wilayah ini satu milenia setelah orang Afrika Utara, kaum Parisii adalah pedagang ulung. Mereka selalu menghubungkan kesadaran komersial (commercial nous) dengan persepsi yang selalu muncul dari dunia lain.

Menghuni sebuah kawasan yang pada zaman dulu dikenal sebagai daerah Lutetia, mereka dikenal hampir tidak memiliki rasa takut terhadap dunia fisik. Tetapi mereka juga merasakan kekhawatiran kolektif kuat tentang akhir dunia, bahwa langit akan secara harfiah akan runtuh menimpa kepala mereka.

Nama Lutetia hanya bertahan selama beberapa ratus tahun. Kota ini berubah nama menjadi Paris pada masa kekuasaan Julian, seorang komandan pasukan Romawi, yang menggantinya dengan Civitas Parisiorum, yang berarti kota suku Parisii. Sedangkan nama France (Prancis), pertamakali dicetuskan oleh Clovis, pemimpin suku barbar Frank yang berakar di Jerman Barat.

Clovis merupakan seorang pembunuh dan bandit. Setelah menguasai Lutetia, ia memproklamasikan bahwa semua orang Frank adalah manusia merdeka dan semua manusia merdeka adalah orang Frank. Sejak saat itu, istilah ‘Frank’ tidak hanya dikaitkan dengan Francia, yang secara perlahan menjadi France, namun juga dengan gagasan menjadi “manusia merdeka”. (Halaman 12-30)

Kaum Frank memerintah Prancis selama hampir dua abad. Berbagai gejolak politik, peperangan dan penjarahan silih berganti menghiasi hari-hari Paris. Akan tetapi, Stereotipe karakter parigot Parisian atau orang-orang Paris tetap lebih sering menampilkan sosok-sosok yang secara konsisten melawan pemerintah suatu negara. Bukanlah kebetulan bahwa kata “Parisian” sudah lama disamakan dengan kata agitator, atau penghasut.

Identitas lain yang melekat pada Paris adalah medan peminum minuman keras. Pada paruh abad ke-17, hampir semua jalan di kota memiliki paling sedikit dua atau tiga kedai minum dengan berbagai kualitas dan harga. Tidak mengherankan jika penyair Francois Villon menyebut kota ini “parouarts”, sebuah kata sandi bagi kedai minum dan rumah pelacuran bawah tanah. (Halaman 211)

Dekade 1990-an dalam banyak hal menjadi dekade yang sulit bagi Parisian. Pada Desember 1995, di bawah bayangan seorang presiden yang sekarat dan rasa terombang-ambing, setelah kekacauan dan kekerasan tingkat rendah yang sporadis, Paris seperti kota hantu; sebagian besar jalanan kosong, kecuali sejumlah kecil turis.

Bahkan sekarang, para komentator budaya biasanya menyebut tahun 1994 dan 1995 sebagai ‘tahun-tahun hitam’, saat identitas Paris menghadapi bahaya serius yaitu tenggelam di bawah serangkaian krisis lainnya. (Halaman 548)

Memang benar bahwa cinta adalah hal utama bagi mitos dan realitas Paris, tetapi demikian pula halnya dengan makanan, pakaian, agama, uang, perang, dan seks. Bahkan ketika teror dan kekerasan mendominasi jalanan, seks dan cinta masih menjadi pusat dari etos dan mitologi Paris.

Gairah, pertumpahan darah, glamor dan fanatisme selalu menjadi bagian integral kehidupan sehari-hari di kota kuno ini. Gaya hidup baru, perpolitikan baru, kekerasan dan kesenangan dalam bentuk baru, sedang membentuk kota abad ke-21.

Dengan semangat demikian, buku setebal 591 halaman ini disuguhkan dalam bentuk sebuah perjalanan dari bar, tempat pelacuran dan ruang belakang, ke pemukiman-pemikiman miskin di pinggir kota serta serta salon elegan dan pusat kekuasaan, sambil selalu menginterogasi, membedah atau hanya digoda oleh mitos-mitos Paris yang memukau sekaligus penuh paradoks.

Beragam data dan referensi disodorkan penulisnya, sehingga karya ini merupakan hasil riset yang serius dan mengesankan. Sebuah buku sejarah yang dapat digunakan sebagai penerjemah, pemandu dan teman bicara bagi siapa saja yang membacanya. Terentang selama dua ribu tahun, mulai dari era prasejarah hingga era Zinedine Zidane. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar