Sabtu, 24 Mei 2014

Para Juru Damai Perang Salib

Koran Sindo, 25 Mei 2014
 
Judul Buku: Santo dan Sultan
Penulis: Paul Moses
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, 2014
Tebal: 411 Halaman

Perang Salib merupakan peristiwa monumental yang menandai sisi gelap para pemeluk agama dalam sejarah. Sejak pertamakali diluncurkan oleh Paus Urban II pada tahun 1095 dengan misi merebut Yerusalem dari tangan kaum muslim, tak terhitung nyawa manusia melayang dan kepala terpenggal dengan darah menggenangi bumi dari kedua belah pihak.

Tidaklah mengherankan, meski terjadi satu mileu yang lalu namun keganasan dan kengerian serta api peperangan masih memercik hingga kini pada sebagian orang. Sehingga tidak jarang sentimen Perang Salib dikobarkan demi menguak luka lama, dengan menggunakan jargon dan idiom yang digunakan pada masa itu.

Akan tetapi, Perang Salib rupanya tidak memulu kisah pertumpahan darah atas nama Tuhan. Di dalamnya juga terdapat kisah mengagumkan dari pribadi-pribadi luar biasa dari kedua belah pihak. Sebuah kisah tentang perdamaian, yang telah diceritakan dari jutaan bibir selama hampir delapan ratus tahun dan tetap bergema dalam berbagai suasana, termasuk ketika umat Kristen dan Islam saling curiga.

Sebuah kisah, sebagaimana yang dihadirkan dalam buku berjudul Santo dan Sultan ini, tentang bagaimana para juru damai berusaha dengan caranya sendiri untuk memutus siklus kekerasan yang terjadi. Puncak peristiwa yang dihadirkan adalah pertemuan antara Fransiskus dari Asisi dengan Sultan al-Kamil yang kemudian menghasilkan sebuah upaya damai antara antara pihak yang bertikai.

Sebelum dikenal sebagai salah satu santo Kristen terbesar, Santo Fransiskus dari Assisi pada awalnya adalah seorang anak muda pemuja keksatriaan bernama Francesco dengan nama baptis Giovanni. Anak seorang saudagar kaya dari Assisi. Menjadi tawanan Perugia akibat kalah berperang ketika membela Assisi pada tahun 1203, mengakibatkan terjadinya perubahan baik secara fisik maupun mental pada dirinya.

Selain malaria yang dideritanya, trauma akibat kecamuk perang menyebabkan psikologinya terganggu. Fransiskus selalu merasa hampa dan tertekan. Maka dimulailah proses pertobatannya. Dia mulai membenci dirinya dan menghina hal-hal yang dulu dia cintai dan kagumi. Ia akhirnya mengisi kehampaan tersebut dengan Tuhan dan secara bertahap mengalami kebangkitan spiritual. (Halaman 22)

Untuk menjauhkan diri dari kehidupan keprajuritan, Fransiskus berbalik menentang nilai-nilai yang dianut ayah dan teman-temannya: kekayaan dan kehormatan. Sebuah sikap yang bukan hanya beresiko direndahkan secara sosial namun juga menerima kekerasan fisik. Bahkan ia juga harus berhadapan dengan Paus Innosensius III yang tengah semangat mengobarkan Perang Salib kelima.

Sedangkan Malik al-Kamil Nasrudin Muhammad lahir pada 19 Agustus 1180, kira-kira satu setengah tahun sebelum kelahiran Fransiskus. Keponakan seorang panglima paling terkenal Perang Salib, Salahuddin Yusuf bin Ayyub atau biasa dikenal dunia Barat dengan sebutan Saladin.

Pada masa-masa awalnya, Malik al-Kamil dididik dalam hal kekuasaan. Salah satu pelajaran besar baginya datang setelah Perang Salib Ketiga diluncurkan pada tahun 1189. Menurut salah satu kronik Perang Salib, pada 29 Maret 1192, al-Kamil yang kala itu masih belia dan dididik dalam ketaatan yang teguh pada hukum Islam, menjalani sebuah ritual oleh pemimpin Tentara Salib, Richard yang oleh sejarawan disebut sebagai “sakramen kedelapan”.

Pengalaman ini tak pelak menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi pada diri al-Kamil terhadap orang-orang Kristen. Sehingga tak mengherankan jika al-Kamil digambarkan sebagai pejabat yang selalu memperhatikan keinginan mayoritas umat Kristiani. (Halaman 92)  

Tanggal pasti kedatangan Fransiskus di Mesir tidak diketahui, tetapi dia kemungkinan turun dari kapal Tentara Salib tak lama setelah pertempuran 31 juli. Di tengah sengitnya pertempuran antara pasukan Muslim pimpinan al-Kamil dan tentara Salib pimpinan Kardinal Pelagius sebagai wakil Paus dan John dari Brienne.

Respons Fransiskus terhadap para penghasut perang pada zamannya adalah dengan berusaha mengembalikan gereja ke akar-akarnya pada zaman rasul, ketika sikap anti-kekerasan masih menjadi aturan dan sesuatu yang boleh diabaikan.

Kisah nyata Fransiskus, Sang Sultan, dan percakapan damai yang terjadi antara keduanya pun berlangsung. Meski demikian, sejarah kemudian mengubur kisah tersebut karena peristiwa tersebut tidak sesuai dengan tujuan para paus yang terus menggalang dukungan bagi serangkaian serangan Perang Salib. (Halaman 273)

Dengan menggunakan metode jurnalistik dari kerja penelusuran sebagaimana yang telah dilakukan para ahli Alkitab dalam menemukan Yesus yang historis dalam Injil. Paul Moses, penulis buku ini, melihat setiap peristiwa sesuai dengan konteks zamannya: sasaran penulisan, kondisi politik yang terjadi, serta tujuan teologis si penulis dalam menyampaikan kisah-kisah tersebut.  

Menurut Moses, kebenaran tentang Fransiskus dan hubungannya dengan Islam dan Perang Salib telah ditutup-tutupi. Biografi-biografi awal yang penting mengenai Fransiskus ditulis di bawah pengaruh para paus abad pertengahan yang berkuasa- orang yang sama yang mengorganisasi Perang Salib.

Sehingga masalah utama yang dihadapi dalam upaya memulihkan sosok Fransiskus yang sesuai sejarah adalah bahwa dokumen-dokumen abad pertengahan ini, betapapun rinci dan informatifnya, tidak bisa begitu saja dipercaya sebagai nilai yang kasatmata.

Kehadiran buku setebal 411 halaman ini diharapkan dapat mendorong para pembaca untuk mengikuti jalan damai sebagaimana yang dilalui oleh Fransiskus dan Sultan alih-alih menggunakan jalan pedang dan senapan, meskipun dalam situasi peperangan yang brutal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar