Minggu, 25 Maret 2012

Kicau Presiden Jancuker

Jawa Pos, 25 Maret 2012

Judul Koran: Ngawur karena Ingin Tegak 
Judul Buku: Ngawur Karena Benar
Penulis: Sujiwo Tejo
Penerbit: Imania
Cetakan: I, Februari 2012
Tebal: 248 Halaman

Menghibur sekaligus mencerahkan. Jenaka tanpa harus melupakan persoalan bangsa. Begitu kuat kecintaan dan kerinduannya terhadap sejarah masa lalu serta budaya yang diwariskannya. Sebesar kecintaannya terhadap negara sehingga ia mau menghabiskan energinya untuk membedah beragam peristiwa teraktual dengan sudut pandangnya yang beraneka.

Itulah kesan dan apresiasi atas sosok bernama Sujiwo Tejo dalam buku berjudul Ngawur Karena Benar ini. Berisi kumpulan tulisannya yang tersebar di berbagai media massa nasional seperti Jawa Pos, yang memang secara rutin setiap hari Minggu, Presiden Jancuker, begitu ia dijuluki di jejaring sosial twitter, ini didaulat menjadi penulis tetap di rubrik “Wayang Durangpo”.   

Sabtu, 17 Maret 2012

Jiwa yang Mencintai Indonesia

Sindo, 18  Maret 2012

Judul Buku: Jiwa yang Merajut Nusantara
Penulis: Irman Gusman
Editor: Hasril Chaniago
Penerbit: Ghalia Indonesia
Cetakan: I, Februari 2012
Tebal: 520 Halaman

Beragam alasan dan motivasi yang melatarbelakangi penulisan autobiografi. Mulai sekedar untuk berbagi pengalaman hidup, konfirmasi atas berbagai peristiwa masa lalu yang memicu kontroversi, sarana politik pencitraan, hingga media untuk menyampaikan sebuah gagasan yang dianggap lebih komprehensif dan tepat sasaran.  

Sedemikian besarnya pengaruh sebuah buku, tidak mengherankan jika belakangan ini semakin banyak selebriti, politisi, pejabat publik maupun tokoh masyarakat yang menuangkan kisah hidupnya dalam buku. Tercatat mantan Presiden BJ Habibie, mantan ketua MPR Amien Rais, Letjen Purn Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Dahlan Iskan, dan lain-lain melakukan hal serupa.

Rabu, 07 Maret 2012

Antara HAM, Agama dan Kebudayaan

Harian Jogja, 8 Maret 2012

Judul Buku: Hak-hak Asasi Manusia: Polemik dengan Agama dan Kebudayaan
Penulis: F. Budi Hardiman
Penerbit: Kanisius
Cetakan: I, 2011
Tebal: 159 Halaman

Hak asasi manusia (HAM) ibarat mantra yang kerap dirapal bibir para aktivis maupun elit politik di Indonesia, namun mantra tersebut sepertinya belum terbukti keampuhan dan kemanjurannya untuk mengejawantah dalam realitas kenegaraan dan kemasyarakatan.

Hal ini terbukti dengan masih berjibunnya kasus pelanggaran atas hak asasi manusia yang melanda negeri ini, sebut saja yang masih hangat jadi pembicaraan adalah kasus Mesuji di Sumatra, kasus Bima di Nusa Tenggara Barat, dan pembakaran pesantren Syi’ah di Madura.

Ironisnya, hambatan penegakan HAM tidak hanya disebabkan sikap pemerintah yang terkesan setengah hati mengimplementasikannya, tetapi ide HAM juga kerap menimbulkan polemik ketika berhadapan dengan kebudayaan, agama, dan masyarakat yang disebabkan adanya stigmatisasi dan tematisasi bahwa HAM hanyalah produk Barat yang tidak sesuai dengan kebudayaan masyarakat setempat.  

Senin, 05 Maret 2012

Menghidupkan Sifat Berbelas Kasih

Koran Jakarta, 6 Maret 2012

Judul Buku: Compassion
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Januari 2012
Tebal: 247 Halaman

Nama Karen Armstrong selama ini dikenal di seantero jagad akademisi dunia sebagai profesor yang piawai mengurai pelik sejarah agama-agama. Di Indonesia, karya-karyanya semisal Sejarah Tuhan dan Masa Depan Tuhan, bahkan telah menjadi semacam buku babon yang wajib dibaca para sarjana agama.

Namun, penghargaan yang diterimanya pada Februari 2008 dari sebuah organisasi nirlaba swasta yang intens memberikan penghargaan setiap tahun kepada orang-orang yang diangap memiliki kontribusi besar terhadap perbedaan bernama TED (Technology, Entertainment, Design), membuat Karen berpikir lebih menukik ke dalam,  menuju ke intisari agama yaitu belas kasih.

Sabtu, 03 Maret 2012

Membela Petani Tembakau

Bisnis Indonesia, 4 Maret 2012

Judul Buku: Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek
Penulis: Abhisam DM, Hasriadi Ary, Miranda Harlan
Penerbit: Kata-kata
Cetakan: I, Desember 2011
Tebal: 157 Halaman


“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin” begitulah peringatan ditulis pemerintah yang tertera dalam setiap bungkus rokok.

Perusak kesehatan, nampaknya dijadikan dalil utama sekaligus yang paling santer dihembuskan untuk memberangus atau setidaknya meminimalisir peredaran rokok. Dengan alasan yang sama, salah satu ormas terbesar tanah air, Muhammadiyah, melalui majlis Tarjih juga berinisiatif mengeluarkan fatwa haramnya rokok pada tahun 2010 silam.

Pelan tapi pasti, wacana tembakau yang berbahaya bagi kesehatan menjelma menjadi sebuah kebenaran umum. Nyaris tidak ada ruang pembelaan maupun wacana tandingan yang muncul ke permukaan. Semuanya mengamini dan bersikap sami’na wa atho’na, taken for granted bahwa tembakau merusak kesehatan, titik.