Kamis, 27 Januari 2011

Yuda Balaputra Dewa


Judul Buku: Percy Jackson & The Olympians: The Last Olympians
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: Pertama, Juni 2010
Tebal: 454 Halaman 
Apa jadinya jika para Dewa Yunani Kuno yang popularitasnya telah memudar digilas roda zaman ternyata diam-diam menjalin hubungan asmara dengan bangsa manusia hingga kini, bahkan menghasilkan keturunan? Bagaimana pula jika para Dewa tersebut yang ditahbiskan sebagai para penguasa jagat raya selama berabad-abad lalu terancam eksistensinya oleh kolaborasi pasukan monster dan Dewa pemberontak yang dipimpin seorang blasteran hasil perkawinan Dewa dengan bangsa manusia? 
Itulah saga yang ditawarkan Rick Riordan dalam pentalogi Percy Jackson and The Olympians ini. Namun Riordan tidak serta merta mengadaptasi mitologi tersebut bulat-bulat, secara imajinatif-kreatif ia memindahkan lanskap cerita tersebut dari pusat perdaban dunia masa lalu, Yunani, ke pusat peradaban dunia modern, Amerika. Disinilah para dewa tersebut tetirah, tidak tanggung-tanggung istana Olympus tempat tinggal para Dewa pun diboyong ke puncak gedung Empire State, di Manhattan.    
Sebagaimana yang tertera pada judulnya, seri ini menceritakan petualangan sosok Percy Jackson dengan para Dewa Olympus. Percy merupakan salah satu blasteran, sebutan bagi keturunan silang antara Dewa dan manusia. Ayahnya adalah Poseidon sang penguasa lautan dan ibunya bangsa manusia. Ia dan para blasteran lain, tinggal di Perkemahan tempat berkumpul dan belajar para blasteran, tepatnya di Pesisir Utara Long Island.
Kini pentalogi tersebut telah mencapai akhir kisah, dalam buku pamungkas berjudul lengkap Percy Jackson & The Olympians: The Last Olympians ini, petualangan Percy Jackson mencapai klimaks menjelang usianya keenam belas tahun, dimana ia akan memenuhi takdirnya sebagaimana yang tertera dalam nubuat. Percy diramalkan akan mengalami peristiwa terhebat sepanjang hidupnya sekaligus sejarah paling menentukan bagi masa depan para Dewa Olympia.

Seri kelima sekaligus terakhir ini diawali dengan lakon Percy dan sahabatnya Charles Beckendorf yang berusaha menghancurkan kapal Putri Andromeda  pengangkut laksaan monster di bawah komando Kronos, yang merasuki raga blasteran bernama Luke, secara langsung. Meski tergolong sukses, sayangnya misi tersebut harus dibayar mahal dengan merenggut nyawa Charles. Terlebih ledakan itu tidak membuat Kronos dan beberapa anak buah utamanya seperti Ethan Nakamura putra Nemesis musnah, bahkan hasrat Kronos untuk melakukan invasi dan menghancurkan istana Olympia nampaknya semakin menjadi-jadi.

Kejutan demi kejutan berhasil dihadirkan raja para Titan ini dengan memanggil beragam makhluk purba dari kegelapan untuk menghantam para Dewa, salah satunya adalah Typhon, ayah semua monster yang pada masa dahulu hampir meluluh-lantakkan istana Olympus. Selain itu, Kronos juga berhasil menarik simpati kalangan dewa minor yang selama ini termarjinalkan dalam pergaulan para Dewa, ia juga sukses menggaet sebagian blasteran balaputra Dewa untuk mendukung misinya.      

Para blasteran menjadi istimewa karena tidak seperti manusia biasa, mereka dikarunia anugerah baik berupa kekuatan bertarung, juga memiliki penglihatan yang mampu menembus Kabut, tirai yang memisahkan antara dunia manusia dengan dunia para Dewa dan Monster meskipun secara paralel hidup bersamaan. Meski terdapat beberapa pengecualian seperti Rachel, teman dekat Percy, bangsa manusia yang mampu melihat menembus Kabut.    

Nampaknya tidak ada harapan bagi para Dewa dan Percy untuk bertahan, Yuda (perang) yang melibatkan balaputra Dewa ini terlihat di atas kertas kemenangan berada di pihak Kronos. Bukan hanya karena faktor jumlah pasukan yang lebih banyak dan kuat, namun juga terdapat pengkhianat di kubu barisan pembela para Dewa yang menjadi “mata” dan “telinga” bagi Kronos. Ketika semua asa nyaris binasa, hanya ada satu kemungkinan kecil bagi Percy untuk memenangi pertempuran. Sebuah ritual yang membuat ia menyandang kekuatan besar sekaligus harus memikul kutukan Achilles bagi dirinya. 

Membaca saga karya peraih penghargaan Master Teacher Award 2002 ini akan membuat siapapun pembacanya berdecak kagum. Bukan hanya dengan rajutan ceritanya yang memang digarap secara apik, namun penguasaan penulisnya akan sejarah dan mitologi Yunani menjadi nilai tambah tersendiri bagi keberadaan buku ini, hal wajar menilik latar belakang keilmuan Riordan yang kenyang pengalaman sebagai guru Sejarah dan Bahasa Inggris di San Francisco Bay Area dan Texas selama lima belas tahun. 

Dialog di dalamnya kaya dengan metafora yang sayangnya bukan hanya memperlihatkan arogansi para Dewa, namun juga kepongahan peradaban Barat. Akan saya petikkan kata-kata Dionysus, salah satu Dewa Olympia kepada Percy untuk mendukung asumsi tadi: “kekacauan Titan berarti akhir dari peradaban Barat. Kesenian, hukum, seni mencicipi anggur, video game, baju sutra, lukisan beledu hitam -segalanya yang membuat hidup kalian layak dijalani akan menghilang!” (halaman. 316).  

Penggunaan terminologi “peradaban Barat”, jelas sangat menggangu mengingat hal itu kemudian membuat pembaca berasosiasi akan lawan Barat, yaitu Timur. Dengan demikian apakah maksud Riordan bahwa jika para Dewa merupakan personifikasi dari Peradaban Barat, lantas para Titan dan Monster berasal dari peradaban Timur? Mudah-mudahan tidak. Untungnya hal itu tidak menjadi masalah karena tertolong dengan dahsyatnya cerita yang disuguhkan, sehingga pembaca akan terpukau dan abai.   

Dilengkapi bumbu asmara para remaja yang terkadang mengundang tawa, membuat buku setebal empat ratus lima puluh empat halaman ini tidak sekedar menjamu ketegangan dan suspense bagi para pembaca. Pengakuan akan kualitas cerita yang disuguhkan Riordan telah terbukti dengan menyabet New York Times Notable Book 2005 atas seri pertama dari pentalogi ini. Tidak mengherankan pula, jika rumah produksi besar Hollywood, Twentieth Century Fox, membeli karya ini untuk dipentaskan ke layar lebar. Sebuah apresiasi yang semakin mengukuhkan Riordan sebagai penulis cerita papan atas dunia. 

Menjelajahi lembar demi lembar cerita dalam novel ini bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca dan terutama penulis di tanah air bahwa begitu banyak lahan yang bisa digarap bagi kerja kreatif. Cerita pewayangan yang penuh muatan moral luhur dan melekat abadi dalam masyarakat (Jawa), sangat mungkin untuk dihidupkan kembali ke masa kini para tokohnya secara utuh, sebagaimana Riordan menghidupkan para Dewa Olympia. Tentu saja dengan bumbu imajinasi yang menggugah selera sehingga mampu menarik minat pembaca. Selamat membaca dan berkarya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar