Jumat, 07 November 2014

Mengelola Pikiran untuk Hidup Bahagia

Koran Jakarta, 13 September 2014

Judul Buku: NLP: The Art of Enjoying Life
Penulis: Teddi Prasetya Yuliawan
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, 2014
Tebal: 500 Halaman

Dewasa ini metode Neuro-Linguistic Programming atau NLP banyak diminati berbagai kalangan sebagai sebuah metode untuk mengubah sumber daya manusia menjadi lebih baik secara efektif. Mulai dikembangkan sejak era 1970-an, oleh para pakar dari Beragam disiplin keilmuan antara lain neurologi, psikologi, linguistik. Terutama oleh Richard Bandler dan John Grinder.

Bandler dan Grinder juga mengklaim bahwa NLP dapat mengobati masalah seperti depresi, pobia, gangguan kebiasaan, penyakit psikosomatik, miopi, alergi, flu, dan gangguan belajar. Hebatnya, menurut keduanya, semua penyakit tersebut terkadang dapat disembuhkan hanya dalam satu sesi terapi. Lalu benarkah demikian ? 

Buku berjudul NLP: The Art of Enjoying Life ini dihadirkan oleh Teddi Prasetya Yuliawan, penulisnya, dalam bentuk yang sistematis sekaligus ringan mudah dicerna pembaca dan tersebar dalam dua belas bab. Sebagian referensi yang digunakan merujuk pada para pakar serta praktisi utama NLP, terutama dua tokoh yang disebutkan di atas.

Selain itu, pengalaman penulis selama kurang lebih lima tahun sejak pertamakali mengenal konsep NLP hingga menjadi seorang praktisi terkemuka seperti saat ini yang banyak berinteraksi dengan beragam kalangan semakin memperkaya dan mewarnai isi buku ini. Kontribusinya sebagai pendiri Indonesian NLP Society, sebuah komunitas virtual pembelajar NLP dengan anggota lebih dari 950 orang, membuktikan kepakarannya dalam bidang NLP di Indonesia.   

Dirunut dari akar kata yang membentuknya, proses perubahan tersebut dilakukan dengan cara melakukan intervensi (Programming) terhadap program yang ada dalam pikiran (neuron) dengan menggunakan media bahasa (language). Dengan demikian NLP berkutat tentang perubahan.

NLP berasumsi bahwa tiap manusia telah memiliki program dalam diri masing-masing baik yang didapat melalui keturunan (genetik) maupun proses belajar selama hidup. Tugas NLP adalah menyesuaikan atau mengubah program tersebut sehingga menjadikan si empunya lebih efektif sebagai individu. Pikiran sebagai pusat dari kesatuan proses fisiologis dan emosi menjadi fokus utama dalam hal ini.

Sedangkan media bahasa digunakan secara dominan sebab proses intervensi hakikatnya adalah proses komunikasi antar bagian-bagian (parts) dalam diri manusia sehingga selaras dengan perubahan yang diinginkan. Karena keterkaitan erat antara pikiran dengan bahasa inilah maka kata neuro dan linguistic selalu dituliskan dengan cara disambung dalam NLP. (Halaman 28-29)

Bahasa menjadi titik sentral bagi penentu state, alias kondisi pikiran-perasaan yang dialami. Ubah bahasanya, state pun berubah. Tidaklah mengherankan, orang-orang sukses adalah mereka yang punya tabungan kosakata baik lebih banyak daripada mereka yang sengsara. Dan, orang-orang biasa serta orang-orang gagal adalah mereka yang pakar dalam mengumpulkan kosakata negatif.

Gambar, suara, rasa, aroma, dan sensasi yang ada dalam pikiran manusia dalam NLP disebut sebagai Internal Representation. Dalam bahasa psikologi ia dikenal dengan istilah persepsi. Representasi internal inilah yang mempengaruhi state, dan ujung-ujungnya mempengaruhi perilaku.

Perlu diingat, NLP tidak bicara secara spesifik sebuah angka tertentu untuk menentukan hasil ataupun durasi, namun menemukan mana di antara proses yang ada saat ini yang paling efektif untuk menciptakan perubahan. Sehingga urusan NLP bukanlah soal cepat atau lambat, melainkan efektif atau tidak.

Proses intervensi dalam NLP tidak berurusan dengan positif atau negatifnya sebuah perilaku, melainkan fokus pada bagaimana sebuah perilaku bisa muncul secara excellent alias otomatis tanpa dimunculkan secara sadar. Satu-satunya cara untuk melakukkannya adalah dengan proses modeling. Sebuah teknik yang menjadi inti keunikan dari NLP itu sendiri.

Modeling dapat didefinisikan sebagai sebuah proses replikasi sebuah perilaku yang excellent. Alih-alih bertanya mengapa perilaku tersebut bisa dimiiki seseorang, modeling mengurai bagaimana persisnya seseorang memunculkan perilaku excellentnya secara konsisten. Memahami proses “bagaimana” tersebut, praktisi NLP mampu melakukan apa yang mereka lakukan secepat mungkin. (Halaman 424) 

Dalam praktiknya, NLP dapat diaplikasikan dalam beragam bidang, mulai dari psikoterapi, coaching, bisnis, pendidikan, kesehatan, keluarga, hingga spiritual. Semuanya menunjukkan betapa NLP merupakan sebuah seni kehidupan yang mampu merembes ke berbagai aspek kehidupan manusia. 

Seorang praktisi NLP sejatinya adalah seorang guru yang mengajari klien bagaimana cara untuk menyelesaikan masalahnya sendiri saat ini, dan masalah lain pada masa-masa mendatang. Dengan demikian pelatihan NLP sejatinya bukanlah sebuah proses terapi, melainkan sebuah model pembelajaran untuk menuju kehidupan yang lebih berbahagia. (Halaman 368)

Buku setebal lima ratus halaman ini selain mudah dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari juga materi-materi yang disajikannya memiliki alur rangkaian yang tidak memancing kebingungan. Terutama bagi para pembaca yang baru mengenal dan mempelajari konsep NLP. Sehingga baik pencari kepraktisan maupun yang menginginkan eksplorasi intelektual, buku ini diharapkan dapat memenuhi keduanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar