Selasa, 21 Oktober 2014

Ketika Gadis Pashtun Menggugat Tradisi

Koran Sindo, 19 Oktober 2014
 
Judul Buku: I am Malala
Penulis: Malala Yousafzai dan Christina Lamb
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, 2014
Tebal: 383 Halaman

Selasa, 9 Oktober 2012 menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh dua puluh siswi Sekolah Khusal di kota Mingora, Distrik Swat yang tengah berada di truk sekolah mereka. Terutama oleh seorang murid kelas sembilan berusia lima belas tahun bernama Malala Yousafzai.

Pada hari yang nahas tersebut, seorang lelaki yang mengenakan topi pet, dengan saputangan menutupi hidung dan mulutnya, tiba-tiba melompat masuk ke bak belakang truk dan menanyakan orang bernama “Malala”. Setelah menemukan sosok yang dicarinya, ia mengangkat sepucuk pistol Colt. 45 dan menembakkan tiga peluru secara beruntun ke arah gadis muda tersebut.

Tembakan pertama menembus rongga mata kiri si gadis dan menembus keluar dari bawah bahu kirinya. Sedangkan dua peluru lainnya mengenai dua orang teman sekolah yang tepat berada di sebelahnya. Belakangan diketahui, kedua peluru terakhir meleset dari sasaran karena tangan si pelaku penembakan gemetar ketika melakukan aksi tersebut.

Lalu siapakah Malala ? dan mengapa gadis semuda itu menjadi sasaran penembakan keji yang diduga dilakukan oleh kelompok Islam radikal di daerahnya, Taliban ? bagaimana pula kisahnya hingga ia kemudian menjadi seorang peraih Nobel Perdamaian termuda? Buku berjudul I am Malala ini menyuguhkan kisah hidup gadis muda bersuku Pashtun tersebut secara utuh.

Lahir pada tanggal 12 Juli 1997, Malala hadir di tengah masyarakat yang sangat patrilineal. Kedatangannya di dunia disambut dengan simpati dari para tetangga serta penduduk desa kepada sang ibu karena “hanya” melahirkan seorang perempuan. Bagi sebagian besar orang Pashtun, suku Malala, hari tampak muram ketika seorang anak perempuan lahir.

Tapi tidak untuk Malala. Ia sangat beruntung memiliki ayah seorang pendidik yang tercerahkan. Bahkan dengan bangga Ziauddin, ayahnya, menyebut anak perempuannya kelak akan menjadi orang hebat dan pemberani, sebagaimana nama pahlawan perempuan terkenal suku Pashtun bernama Malalai dari Maiwand. Sosok yang mengilhaminya memberikan nama yang sama kepada anak perempuan tercintanya. 

Diskriminasi terhadap perempuan pada masyarakat Pashtun memang seolah telah menjadi tradisi, yang dipertegas dengan adanya adat yang disebut swara, yang menyatakan seorang anak perempuan boleh diserahkan kepada suku lain untuk menyelesaikan permasalahan. (Halaman 80) Kondisi demikian diperparah dengan kedatangan organisasi radikal dari Afganistan bernama Taliban.

Taliban masuk ke Swat ketika Malala menginjak usia sepuluh tahun. Mereka muncul dalam kelompok-kelompok bersenjatakan pisau dan Kalashnikov. Pemimpinnya adalah Maulana Fazlullah yang pada awalnya sangat bijak dan memperkenalkan diri sebagai pembaharu Islam dan penafsir al-Qur’an.

Dengan menjual isu agama dan mengatasnamakan Tuhan, Taliban secara cepat menarik simpati masyarakat. Uang dan emas masyarakat mengalir ke kas mereka. Melalui radio, Fazlullah mengkampanyekan formalisasi syariat Islam versi Taliban. Ia mulai melarang TV dan musik, kecuali musik Taliban. Juga menghancurkan benda-benda warisan budaya yang telah ada selama ribuan tahun. (Halaman 146)

Kegilaan Taliban berlanjut dengan melarang anak perempuan untuk bersekolah. Puluhan ribu anak sekolah terancam drop out. Tidak sedikit guru yang memilih berhenti mengajar karena takut dengan kekerasan dan teror yang ditebar Taliban sepanjang jalan, di mana mayat tanpa kepala atau tubuh penuh peluru hampir setiap pagi ditemukan berserakan.

Meski demikian, Malala dan sang ayah bertekad bahwa bel sekolah mereka, Sekolah Kushal, menjadi sekolah yang terakhir berhenti berdering. Awal 2009 Malala mulai mempublikasikan pengalamannya berada di bawah intimidasi Taliban di web BBC, dengan nama samaran Gul Makai. Ia bahkan menjadi narasumber dalam film dokumenter yang dibuat oleh New York Times untuk isu yang sama.

Ancamana pembunuhan mulai berdatangan dialamatkan kepadanya serta sang Ayah yang dikenal kritis terhadap Taliban. Kecerdasan dan keberanian Malala nampaknya mengalir dari darah sang ayah yang dikenal memiliki bakat sebagai penyair sekaligus aktivis pendidikan yang gigih, pendiri sekolah Kushal, juga ketua Dewan Perdamaian Global dan seabreg aktivitas lainnya.

Namun, eksekusi ternyata lebih dulu dilakukan terhadap Malala dalam truk sekolah yang dinaikinya. Beruntung peluru menembus keningnya, bukan otak. Malala akhirnya dapat diselamatkan setelah sebelumnya diterbangkan ke Peshawar untuk menjalani operasi awal serta mendapatkan perawatan lanjutan secara intensif di Rumah Sakit Queen Elizabeth, Birmingham, Inggris. (Halaman 334)

Keberaniannya dalam menyatakan kebenaran membuat gadis Pashtun pendiri Malala Fund ini patut menjadi panutan bagi generasi berikutnya serta menjadi cermin bening bagi siapa saja yang membaca kisahnya. Kegigihannya dalam memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak perempuan, meski dengan mempertaruhkan nyawa, membuat ia menjadi simbol perjuangan untuk pendidikan anak perempuan seluruh dunia.

Selain itu, kekejian dan kejahatan Taliban terpapar secara gamblang dalam buku setebal 383 halaman ini. Sebagai sebuah organisasi yang menjadikan agama (Islam) sebagai pijakan, apa yang dilakukan Taliban di Swat sangat jauh dari cerminan rahmatan lil alamin. Bahkan, lebih identik dengan teror dan kekerasan. Dua sifat yang tidak sejalan dengan Islam itu sendiri.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar