Sabtu, 19 Juli 2014

Dari Karangwuni untuk Indonesia

Lampung Post, 20 Juli 2014

Judul Buku: Melunasi janji Kemerdekaan
Penulis: Muhammad Husnil
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, 2014
Tebal: 300 Halaman

Siapa yang tidak tersentuh hati menyaksikan ratusan anak muda yang mestinya berada di puncak keasyikan menikmati hidup bergelimang gadget dan smartphone canggih, justru memilih menjadi tenaga pengajar di daerah-daerah terpencil.

Jangankan menikmati teknologi mutakhir, bisa mandi dan menikmati air bersih saja sebuah keistimewaan luar biasa. Para Pengajar Muda itu, demikian sebutan mereka, memang berbeda. Ketika kebanyakan anak muda seusia mereka menyerbu kota-kota besar berburu rupiah, mereka lebih memilih berbagi ilmu pengetahuan dengan anak-anak pedalaman.

Padahal mereka bukanlah para sarjana dengan nilai pas-pasan. Melainkan para mahasiswa yang prestasi akademiknya baik, memiliki jiwa kepemimpinan yang terasah, dan memiliki kemampuan menghadapi tantangan kehidupan dengan optimis. Itulah prasyarat agar dapat bergabung dengan Gerakan Indonesia Mengajar (GIM).

Lalu dari siapakah gagasan GIM lahir ? Sebagaimana dipaparkan dalam buku berjudul Melunasi Janji Kemerdekaan ini, nama lengkapnya adalah Anies Rasyid Baswedan. Lahir pada 7 Mei 1969 di Karangwuni, Yogyakarta dari rahim seorang perempuan bernama Aliyah, istri dari Awad Rasyid Baswedan.

Berbeda dengan sosoknya saat ini yang dikenal sebagai intelektual muda, Anies kecil secara akademis ternyata tidaklah cemerlang. Tak pernah rangking pertama, kedua atau ketiga. Nilainya rata-rata saja. Beruntung ia dibesarkan di keluarga akademis. Ayahnya adalah Dekan Fakultas Ekonomi UII, sedangkan sang ibu menjabat ketua jurusan Pendidikan Ekonomi.

Kondisi demikian membuat rumah mereka kerap dikunjungi para mahasiswa yang hendak konsultasi skripsi maupun menyerahkan tugas kuliah. Momen tersebut digunakan oleh orangtua Anies untuk mendidik anak-anaknya agar dapat berkomunikasi dengan orang dewasa. Tidak dengan teori, namun dengan mengajak Anies dan kedua adiknya ikut nimbrung menerima tamu. (Halaman 53)

Kebiasaan membaca juga sudah ditanamkan kepada Anies sedari kecil. Ia sudah menjadi anggota perpustakaan anak sejak kelas 3 SD. Selepas pulang sekolah, ia mengayuh sepeda sekitar 3 kilometer menuju perpustakaan yang berada di jalan Mangkubumi. Salah satu bacaan favoritnya di masa kecil adalah Lateral Thinking karya Edward De Bono, seorang psikolog asal Inggris.

Pergaulannya dengan mahasiswa serta hobi membaca sejak kecil membuat kepribadian dan mental Anies lebih dewasa dibanding anak-anak lain seusianya. Seiring dengan berjalannya waktu, bakat kepemimpinan juga mulai terlihat pada dirinya. Tidaklah mengherankan jika ketika duduk di bangku SMAN 2 Yogyakarta, Anies terpilih menjadi ketua OSIS pada tahun 1985.

Interaksi pertamanya dengan dunia internasional terjadi ketika Anies mengikuti program pertukaran pelajar yang diselenggarakan American Fields Service (AFS) pada tahun 1987. Pengalaman hampir setahun di Amerika sangat bernilai baginya. Ia merasakan betapa perbedaan, baik budaya, kebiasaan, maupun pola pikir, bukanlah penghalang bagi terjalinnya saling pengertian antar sesama manusia dari beragam ras.

Sambil melanjutkan sekolah di SMA 2, Anies menyalurkan sikap kritisnya ke kegiatan yang bisa membawanya lebih memompa diri, mengembangkan dan mengasah kemampuan serta kepemimpinannya melalui program Tanah Merdeka di TVRI Yogyakarta. Sebuah program yang digagas Ishadi S.K sebagai jawaban atas kritik bahwa acara-acara remaja di TVRI klise dan dangkal.

Lulus sekolah Anies memilih kuliah di Universitas Gadjah Mada dan bergiat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Majelis Penyelamat Organisasi (MPO). Berkat kecerdasan, mental dan jiwa kepemimpinannya karirnya di organisasi kampus berjalan mulus. Ia terpilih menjadi ketua senat Mahasiswa UGM pada Februari 1992. (Halaman 111)

Setelah dari UGM Anies mengikuti kuliah selama satu semester di Sophia University, Jepang, sebagai hadiah juara lomba menulis esai yang dihelat Japan Airlines (JAL) Foundation. Sepulang dari Jepang ia menikahi Ferry Farhati pada tanggal 11 Mei 1996. Kebahagiaannya berlipat setelah ia menerima kabar ketiga Universitas di Amerika menerima lamarannya untuk kuliah.

Anies akhirnya memperoleh beasiswa Fullbright untuk jurusan perdagangan internasional, bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di Universitas Maryland. Bersama sang istri ia akhirnya berangkat ke Amerika pada Juli 1996, dengan mengantongi uang urunan dari keluarga besar untuk biaya hidup karena beasiswa ternyata baru cair setahun kemudian.

Penghujung 2005, Anies dan keluarga kecilnya pulang ke Indonesia. Dengan gelar Ph.D yang disandangnya, banyak pekerjaan menghampirinya. Kini, selain menjabat sebagai rektor Universitas Paramadina masa bakti 2011-2015, Anies juga sibuk di Gerakan Indonesia Mengajar.

Dari segi idealisme, GIM lebih dari sekedar mengajar namun memiliki dua tujuan: mengisi kekurangan guru berkualitas di sekolah dasar, khususnya di daerah terpencil, dan menyiapkan lulusan perguruan tinggi untuk menjadi pemimpin masa depan yang memiliki pengetahuan, pengalaman dan kedekatan dengan rakyat kecil di pelosok negeri. (Halaman 238)

Dalam usianya yang relatif masih muda, perjalanan hidup dan perjuangan seorang Anies tentu saja belum berakhir. Masih banyak karya dan prestasi yang bisa diukirnya kemudian hari. Masih banyak kisah dan pengalaman yang dapat dibagikannya kepada pembaca. Karir dan popularitasnya juga boleh jadi dikemudian hari tidak hanya berhenti sebagai akademisi.

Meski demikian, kehadiran buku setebal 300 halaman ini, berhasil menyuguhkan sosok Anies secara utuh. Mulai dari latar belakang keluarganya, masa kecil, remaja, hingga dewasa dan menjadi seorang tokoh yang dikenal dunia internasional seperti saat ini. Tak lupa, perjuangannya untuk melunasi salah satu dari empat janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar