Senin, 07 Juli 2014

Kesederhanaan Empat Pemimpin Dunia

Koran Sindo, 15 Juni 2014

Judul Buku: Perjuangan dan Pengabdian Presiden Termiskin
Penulis: Zaenuddin HM
Penerbit: Kreasi Kata
Cetakan: I, Mei 2014
Tebal: 262 Halaman

Sejatinya seorang presiden bukan hanya pengelola administrasi dan penentu kebijakan negara dengan tujuan utama memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya. Lebih dari itu, seorang pemimpin juga harus menjadi sumber teladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Mulai gaya hidup hingga sepak terjang mereka sehari-hari.

Jika perilaku presiden sebagai pemimpin kerap mengumbar kebohongan dan janji yang tidak pernah ditepati, maka tidak mengherankan jika rakyat akan menilainya negatif. Bila kehidupan pemimpin terkesan glamour dan penuh kemewahan padahal rakyat yang dipimpinnya banyak yang hidup susah bahkan susah hidup, maka kegagalanlah yang akan dituainya.

Sebaliknya, jika seorang pemimpin mampu memberi contoh yang nyata kepada rakyatnya dengan sikap hidupnya yang sederhana dan apa adanya, bukan karena faktor pencitraan demi menarik simpati atau suara rakyat, melainkan sebagai sebuah filosofi hidup yang dihayati, serta memberi bukti-bukti konkrit atas apa yang dijanjikannya, maka simpati dan cinta dari rakyat akan mengalir deras kepadanya.

Setidaknya saat ini dunia mengenal empat sosok yang begitu dicintai rakyatnya dan dikagumi dunia secara luas. Mereka adalah: Jose Alberto Mujica Cordano, Mahmoud Ahmadinejad, Nelson Rolihlahla Mandela, dan Hugo Chavez. Siapa dan bagaimanakah sikap dan gaya hidup keempat presiden tersebut ? Buku berjudul Perjuangan & Pengabdian Presiden Termiskin ini, berusaha memotret keempat sosok tersebut dan menghadirkannya ke hadapan para pembaca. 

Mahmoud Ahmadinejad lahir dengan nama Mahmud Sabourijan pada 28 Oktober 1956. Anak keempat dari tujuh bersaudara. Tidak ada yang istimewa dari masa kecilnya, sebagaimana anak-anak dari keluarga miskin Iran. Dia menggemari sepakbola dan pintar matematika. Juga dikarunia suara yang merdu sehingga ketika berpidato di antara para aktivis mampu mengundang decak kagum para pendengarnya.

Saat berumur satu tahun, keluarganya pindah ke Teheran. Lantas nama “Sabourijan” yang berarti Pelukis Karpet diganti menjadi “Ahmadinejad” yang artinya ras yang unggul, bijak dan paripurna. Boleh jadi pergantian tersebut dilakukan sang ayah dengan harapan lingkungan dan nama yang baru dapat merubah nasib anaknya kelak. (halaman 97)

Karir politiknya dilalui dengan menjadi wakil gubernur dan gubernur Maku dan Khoy, lalu menjadi gubernur Ardabil dan enam tahun kemudian terpilih menjadi Walikota Teheran. Dan setelah dua tahun menjadi Walikota Teheran, Ahmadinejad kemudian ikut mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dalam Pemilu Iran. 

Ahmadinejad akhirnya terpilih menjadi Presiden keenam Iran pada 3 Agustus 2005, dengan mengalahkan para pesaingnya dari kalangan ulama dan politisi yang memiliki dana besar. Kekaguman rakyat Iran dan dunia terhadap sosok ini bukan hanya karena keberaniannya menentang hegemoni negara adikuasa, namun juga karena sikap hidupnya nan penuh sederhana.

Sikap tersebut telah ditunjukkan jauh hari sebelum ia menjadi presiden, bahkan sebelum menjabat sebagai Walikota Teheran. Kesederhaaan melekat erat dalam kepribadian sosok bertubuh kurus kecil tersebut, sehingga bukan sebuah hipokrisi yang ditampilkan di layar televisi semata.

Saat pertamakali menghuni kantor kepresidenan, Ahmadinejad mencopot karpet-karpet mewah dan mahal di Istana Negara dan menyumbangkannya ke masjid-masjid di Teheran. Sedangkan karpet istana digantinya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan. Selama menjadi orang nomor satu Iran, dia memilih tinggal di rumahnya sendriri yang sederhana. (Halaman 165)

Sikap lebih ekstrim lagi ditunjukkan oleh sosok bernama lengkap Jose Alberto Mujica Cordano atau lebih popular dengan nama Jose Mujica. Presiden Uruguay kelahiran 20 Mei 1935 yang terpilih pada tahun 2010 ini, bahkan menyumbangkan 90% gajinya untuk orang-orang miskin yang membutuhkan. 

Jumlah harta kekayaannya pun terbilang kecil. Pada tahun 2010, total kekayaan Mujica hanya sekitar seribu dollar atau setara dengan 11 juta rupiah. Uang sebanyak itu hanya bisa digunakannya untuk membeli sebuah mobil VW Beetle keluaran tahun 1987, yang kemudian menjadi satu-satunya kendaraan pribadi yang selalu digunakan baik untuk kepentingan pribadi maupun dinas Negara.

Sebagaimana Ahmadinejad, gaya hidup sederhana sudah menjadi filosofi hidup Mujica. Bahkan ketika masih menjadi anggota parlemen, sebelum ia memutuskan untuk maju sebagai Presiden, Mujica hanya menggunakan motor vespa sebagai alat transportasi ke gedung parlemen. Hebatnya, dia tidak pernah merasa malu dan minder dengan sikapnya tersebut. (Halaman 43)

Selain dua orang tersebut, dunia juga mengenal nama Hugo Chavez, Presiden Venezuela dan Nelson Rolihlahla Mandela, pemimpin Afrika Selatan sebagai sosok-sosok yang sikapnya merakyat dan sederhana. Pembelaan Madela atas kaumnya bahkan harus dibayarnya dengan merasakan dinginnya ruangan berukuran sempit selama 18 tahun.

Perlakuan kejam dari rezim apartheid Afrika Selatan berakhir setelah rezim tersebut runtuh. Dan pada Pemilu 1994, Mandela menjadi Presiden terpilih Afrika Selatan. Meski demikin, gaya hidupnya tidak pernah berubah. Ia tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana dan mau bergaul dengan siapa saja. (Halaman 204)

Selain memiliki benang merah yang sama: para presiden yang memiliki filosofi hidup yang sederhana dan begitu merakyat, persamaan lain dari keempat tokoh yang ada dalam buku setebal 262 halaman ini adalah keempatnya merupakan para pemberani yang kerap vokal terhadap hegemoni negara-negara maju, terutama Amerika. Keempatnya, tipe pemimpin yang mendahulukan kepentingan rakyat di atas segala-galanya.       


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar