Kamis, 01 Agustus 2013

Kejayaan dan Tragedi Sang Khalifah

Koran Tempo, 28 Juli 2013

Judul Buku: Kejayaan Sang Khalifah Harun Ar-Rasyid
Penulis: Benson Bobrick 

Penerbit: Alvabet

Cetakan: I, 2013

Tebal: 401 Halaman


Sejarah mencatat namanya dalam tinta emas. Popularitasnya mampu mengalahkan ratusan nama khalifah yang membentang berabad-abad dalam berbagai dinasti yang menghiasi sejarah peradaban Islam. Sebagian besar memujinya setinggi langit sebagai seorang pemimpin yang adil dan bijaksana, meski kritikan tajam juga kerap dialamatkan kepadanya.


Dialah Harun al-Rasyid, khalifah kelima dinasti Abbasyiyah. Dilahirkan pada 17 Maret 763 dari rahim Khaizuran, istri al-Mahdi khalifah kedua dinasti Abbasyiyah anak dari Abu al-Abbas, sang pendiri. Namanya banyak disebut dalam roman legendaris Arab, Seribu Satu Malam.


Naiknya Harun menjadi khalifah tidaklah semudah layaknya suksesi dalam sistem monarki. Melainkan melalui proses yang berliku dan mencekam serta menentukan nasibnya serta nasib kerajaan. Pada malam itu, Harun akan dibunuh oleh Hadi,  kakak kandungnya sendiri yang saat itu menjadi khalifah, karena khawatir posisinya terancam.


Rupanya sejarah berkata lain, karena yang terbunuh justru sang khalifah yang dicekik para selirnya atas perintah Khairuzan, ibu kandungnya yang lebih mendukung Harun. Pada malam itu juga Harun dinobatkan sebagai penggantinya, dan pada malam yang sama Ma’mun, putra Harun yang kelak menjadi khalifah yang agung lahir. Malam itu kemudian dikenal sebagai Malam Takdir.


Harun naik tahta ketika berusia 23 tahun, tepatnya pada malam 15 September 786. Berkat bakat memimpin serta kecerdasan yang dimilikinya, ia mampu menjadikan kerajaannya berkembang secara pesat. Perniagaan laut melalui Teluk Persia, dengan kapal-kapal umat Muslim berdagang ke utara hingga sejauh Madagaskar dan ke timur hingga sejauh China, Korea, dan Jepang. (Halaman 113)


Di bidang kebudayaan dan seni, Harun mengadakan acara pembuatan atau pembacaan puisi, sering kali pada hari-hari besar atau pada acara suka cita lainnya, seperti ketika dia kembali dari peperangan atau haji. Para penyair, sarjana, musisi dan pelawak tertarik ke istananya oleh nama baik dan kemurahan hatinya.


Harun juga merupakan figur utama penyokong yang berjasa atas perkembangan ilmu pengetahuan dan seni pada masa itu. Dia sendiri terpelajar, terkenal dengan kefasihannya, padat dalam berpidato, dan, ketika sampai pada urusan puisi, ia adalah seorang ahli. Sebagai sarjana keagamaan, dia juga memiliki telinga yang tajam terhadap makna dan kemampuan menafsirkan al-Qur’an.


Sedangkan di bidang kuliner, umat Muslim masa itu sudah mulai menikmati masakan-masakan Persia yang rumit seperti ayam panggang berisi kacang, susu, dan almod, serta berbagai minuman lembut yang mirip pencuci mulut seperti serbat cair yang diberi rasa buah.


Tak ada gading yang tak retak, demikian kata pepatah. Prestasi Harun yang gemilang ternyata bukannya lepas dari kontroversi. Dia juga termasuk orang yang mudah mencurigai adanya ketidaksetiaan bahkan dalam diri mereka yang sudah lama mengabdi kepadanya.


Misalnya saja, tanpa sungkan ia menyuruh anak buahnya yang bernama Masrur untuk memenggal kepala serta membakar jasad sahabat dekatnya yang telah dipercayainya sejak lama bernama Ja’far bin Yahya dari keluarga Barmak karena memiliki hubungan khusus dengan saudara perempuannya bernama Abbasah.


Affair Yahya bahkan membuat keluarga Barmak yang telah beberapa generasi mengabdi kepada keluarga khalifah dan dikenal sebagai bangsawan kelas atas, runtuh di tangan Harun. Seolah tidak cukup menyeramkan, Harun juga membunuh Abbasah beserta sepuluh dayangnya melalui tangan pembunuh bayaran dan untuk menutupi jejak, para pembunuh tersebut dijahit dalam karung dan dilemparkan ke Sungai Tigris. (Halaman 256)


Sosok yang kompleks menyedihkan sekaligus agung ini meninggal pada 23 Maret 809, dan dimakamkan di taman di Tus. Secara keseluruhan masa kekuasaannya representasi dari penguasa yang energik, yang berhasil mempertahankan kesatuan wilayah yang dimilikinya, sosok yang taat melaksanakan kewajiban agamanya dan memiliki andil besar dalam memperkaya peradaban Islam.


Harun juga satu-satunya khalifah yang menempuh seluruh perjalan haji ke tanah suci dengan berjalan kaki, melaksanakan seratus sujud dalam shalat setiap harinya, juga dikenal adil. Namun di sisi lain, besarnya kekuasaan yang ia pegang membuat Harun terperangkap dalam pilihan-pilihan sulit dan tak jarang mengambil keputusan yang buruk dan kejam, terutama menjelang akhir hidupnya. 


Meski demikian, pada saat yang bersamaan, kenangan mengenai diri Harun selamanya terhubung dengan pesona dan roman yang abadi. Meski berwatak kejam dan semena-mena, dia sampai kepada kita sebagai “Harun yang Adil”, raja di masa lalu dan di masa depan, pemilik Baghdad, kota dongeng yang abadi di mana para nelayan bersahabat dengan Jin dan Aladdin selamanya mengusap lampu ajaibnya.


Kehadiran buku berjudul lengkap Kejayaan Sang Khalifah Harun Ar-Rasyid ini, berusaha menghadirkan sosok Harun secara lebih objektif dan berimbang. Secara lincah, Benson Robrick, penulisnya, berusaha menghadirkan ke hadapan pembaca kebijaksanaan dan keagungan sosok Harun sekaligus hal-hal negatif yang menyertainya.  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar