Sabtu, 26 Februari 2011

Menguak Misteri Rumah Tuhan


Judul Buku: Misteri Ka’bah
Penulis: Fathi Fawzi Abd al-Mu’thi
Penerjemah: R. Cecep Lukman Yasin
Penerbit: Zaman
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 245 halaman
Lebih dari satu milyar manusia di planet Bumi, lima kali dalam setiap harinya menghadap ke Ka’bah. Ya, Ka’bah merupakan tempat berkiblatnya umat Islam seluruh penjuru dunia, tanpa dibatasi oleh sekat-sekat suku, ras, maupun negara.
Ritual ini disebut shalat. Selain menghadap ke satu tempat yang sama yaitu Ka’bah, dalam melakukan shalat kaum muslim juga menggunakan bahasa Arab. Selain shalat, Ka’bah juga dibanjiri jutaan orang untuk berziarah dan menunaikan ibadah haji ke tanah suci setiap tahunnya. Di dalamnya terdapat tawaf, prosesi memutari Ka’bah sebagai syarat sahnya.
Bagaikan matahari yang dikitari planet-planet, setiap saat Ka’bah tak henti di-tawafi para peziarah. Lalu apakah makna Ka’bah sehingga dijadikan oleh Tuhan sebagai tempat menghadapnya umat manusia sebagai bentuk kepasrahan kepada-Nya? Bagaimanakah sejarah berdirinya Ka’bah dan kenapa disebut sebagai Baitullah atau Rumah Tuhan?
Hal inilah yang hendak dipaparkan buku setebal dua ratus empat puluh lima halaman ini. Penulisnya selain mencoba mengisahkan kembali sejarah Ka’bah yang masyhur, juga berusaha mendeskripsikan hal-hal yang selama ini dianggap belum diketahui umum.
Ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir lancar, membuat siapapun yang membacanya akan dengan mudah dapat memahami yang disampaikan oleh penulis buku ini. Selain itu, gaya penulisannya yang menggunakan cara bertutur membuat kita tidak merasa lelah dan bosan menyusuri halaman demi halaman di dalamnya.
Diawali dengan kisah perjalan Ibrahim, Hajar, istrinya dan putra mereka yang baru lahir bernama Ismail. Ketiganya melakukan muhibah dari Kanaan menuju sebuah lembah yang sebelah timurnya berbatasan dengan Laut Merah serta dataran Tihamah dan Nejed, atas perintah Allah.
Malang bagi Hajar, setibanya di tanah ini, Ibrahim kemudian meninggalkannya berdua dengan Ismail yang mungil. Hanya keyakinan atas kasih sayang Tuhan-lah yang membuat ia tegar dan tabah menjalani semuanya. Keyakinan yang sama pula yang memberinya energi untuk berlari antara bukit Shafa dan Marwa tujuh kali mencari makanan bagi Ismail yang mulai menangis dan menghentakkan kakinya ke tanah karena kelaparan. Kelak, perjuangannya ini kemudian diabadikan Tuhan melalui perintah-Nya kepada umat Islam yang melakukan ibadah haji. 
Siapa sangka, hentakan kaki Ismail melahirkan mu’jizat yang dapat dilihat dan dinikmati orang ribuan tahun kemudian. Bahkan, air Zamzam, demikian mu’jizat berupa air itu kemudian disebut, merupakan air yang diyakini kandungannya memiliki daya penyembuh.
Keberadaan air di lembah yang tandus, rupanya menarik banyak kafilah untuk singgah melepas dahaga dan lelah. Lambat laun, Makkah, kemudian berubah menjadi perkampungan yang ramai, tempat singgah beragam musafir. Ibrahim sendiri, beberapa kali menyempatkan datang menyambangi istri dan anak tercintanya.
Hingga akhirnya, datanglah perintah Tuhan kepada Ibrahim untuk membangun kembali rumah-Nya dari pondasi yang tersisa yang dahulu kala di bangun nabi Adam. Ibrahim dibantu Ismail kemudian mengumpulkan batu dari bukit Hira, Qubays dan tempat-tempat lainnya sebagai bahan material Ka’bah. Sedangkan Hajar Aswad (batu hitam) diperoleh Ibrahim dari malaikat Jibril yang sebelumnya tersimpan di Bukit Qubays saat banjir besar zaman Nabi Nuh.
Pasca wafatnya Ibrahim, Ismail dan anak-anaknya memiliki posisi sebagai penjaga Ka’bah. Seiring bergulirnya waktu, Makkah pun semakin berkembang pesat dan penduduknya semakin banyak. Keberadaan air Zamzam menjadikan Makkah sebagai oase yang makmur. Hal inilah yang membuatnya menjadi primadona bagi suku-suku yang ada disekitarnya.
Pertumpahan darah pun tak terhindarkan. Namun, nama Amr bin Luhayy dari suku Khuzaah menempati posisi teratas dalam sejarah kelam Ka’bah. Dialah orang yang pertama kali membawa berhala Hubal dan menempatkannya di dalam Ka’bah. Tidak berhenti sampai disitu, ia kemudian menyuruh kaumnya untuk mengelilingi patung tersebut dan memberinya persembahan.
Dari sinilah penyimpangan secara besar-besaran terhadap spirit tauhid agama Ibrahim mulai terjadi. Penyimpangan ini berlangsung selama berabad-abad hingga munculnya keturunan Ismail yang memiliki misi dari Tuhan untuk meluruskan kembali ajaran Ibrahim tersebut, bernama Muhammad saw.
Memang dalam lintasan sejarahnya, darah manusia seakan tak henti tertumpah di sekitar Ka’bah. Kesesatan dan penyimpangan bahkan pernah merajai dan disemayamkan di dalamnya. Namun sebagai rumah Allah, sesering itu pula Ka’bah dibersihkan dan dilindungi secara ajaib oleh si Pemiliknya. Buku ini merupakan catatan penting ihwal bagaimana sejarah dan campur tangan Tuhan berlaku atas Ka’bah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar