Friday, September 30, 2011

Upaya Meneguhkan Kembali Pancasila


ANALISISnews.com, 5 Oktober 2011
Judul Buku: Negara Paripurna; Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila
Penulis: Yudi Latif
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2011
Tebal: 667 Halaman

Sejak disahkan secara konstitusional pada 18 Agustus 1945, Pancasila dapat dikatakan sebagai dasar (falsafah) negara, pandangan hidup, ideologi nasional, dan ligatur (pemersatu) dalam perikehidupan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia. Singkat kata, Pancasila adalah dasar statis yang mempersatukan sekaligus bintang penuntun (leitstar) yang dinamis, yang mengarahkan bangsa dalam mencapai tujuannya.

Apa daya, beragam rezim yang telah maupun sedang berkuasa di negeri ini tidak ada satu pun yang benar-benar mampu mewujudkan sebagaimana diidealisasikan oleh nilai-nilai Pancasila. Entah karena Pancasila sendiri yang teramat tinggi “terbangnya” sehingga sulit dijangkau, atau justru karena minimnya tingkat keseriusan para penguasa untuk mengimplementasikan daya linuwih Pancasila itu sendiri.

Bahkan, semenjak bergulirnya reformasi 1998, citra Pancasila semakin terjun bebas seiring dengan lebarnya jurang pemisah antara nilai-nilai ideal yang dikandungnya, dengan realitas sosial yang terjadi. Selain itu, pemerkosaan atas makna Pancasila pada masa Orde Baru, yang ditafsirkan sekehendak penguasa dan tidak jarang menjadi alat represi, memunculkan phobia pada sebagian kecil  kalangan masyarakat. Pancasila semakin menanggung beban berat di punggungnya.

Wednesday, September 14, 2011

Menulis Ulang Sejarah Nusantara

Koran Sindo, 4 September 2011
Judul Buku: Peradaban Atlantis Nusantara
Penulis: Ahmad Y. Samantho, Oman Abdurrahman et. all
Penerbit: UFUK
Cetakan: I, Juli 2011
Tebal: 540 Halaman

Nampaknya, buku-buku yang berkaitan dengan sejarah Indonesia/Nusantara memang harus ditulis ulang dengan cara dan pendekatan yang sama sekali berbeda. Selama ini, dipercaya bahwa sejarah Indonesia dimulai dari abad ke-5 Masehi, saat ditemukannya beberapa prasasti di Kutai dan Bogor yang bertarikh di masa itu.

Sebuah identifikasi yang mengabarkan jatidiri manusia Nusantara hanyalah pewaris dari kerajaan-kerajaan konsentris (pedalaman) berbasis agama Hindu dan Buddha. Hasilnya, kita kemudian menerima secara taken for granted dan melegitimasi realitas kekinian kita yang hanya merupakan kelanjutan –dengan pembaruan di tingkat superfisial- dari adab dan budaya kerajaan pedalaman tersebut.    

Maka, keberadaan buku Peradaban Atlantis Nusantara ini, menjadi penting mengingat posisinya yang menjadi semacam pembongkaran terhadap konstruksi sejarah yang diciptakan tersebut di atas. Di dalamnya, sejarah panjang Nusantara dicoba ditafsirkan ulang  dengan melakukan penjelajahan terhadap situs-situs yang diyakini mampu menjadi bukti pendukung atas eksistensi peradaban manusia Nusantara yang lebih panjang dalam sejarah yang ditulis dan diajarkan di sekolah-sekolah selama ini.

Monday, September 12, 2011

Menyingkap Tabir Kepalsuan NII

Oase, Kompas.com, 27 Agustus 2011
 
Judul Buku: Mengapa Saya Memilih Negara Islam
Penulis: Dewi Triana
Penerbit: Mizan
Cetakan: Pertama, Juni 2011
Tebal: 265 Halaman

Diperiksanya Panji Gumilang, oleh penyidik kepolisian akibat dugaan pemalsuan dokumen sebagaimana yang dituduhkan oleh mantan Menteri Peningkatan Produksi NII KW 9, Imam Supriyanto, ternyata belum bisa menyentuh pada dugaan makar yang dilakukan oleh pimpinan pesantren Al-Zaytun tersebut.

Padahal, tidak sedikit data dan informasi yang telah terpapar secara benderang di masyarakat, yang mengaitkan antara Panji gumilang, Al-Zaytun dan NII. Salah satunya adalah buku berjudul Mengapa Saya Memilih Negara Islam, ini. Selama satu tahun lamanya, Dewi Triana, penulis buku setebal dua ratus enam puluh lima halaman ini menghabiskan waktu untuk melakukan riset tentang NII, dengan seperdua dari waktu tersebut dihabiskannya di lapangan.

Keseriusan Dewi dalam kajian sosiologis mengenai dinamika gerakan maupun kelompok-kelompok keagamaan khususnya yang disibak dari sudut pandang mikro dan dianalisis dari tingkat struktural ini, berbuah manis. Hal ini terlihat dari begitu banyak temuan-temuan, yang sejatinya selama ini sudah menjadi rahasia umum, mencengangkan sekaligus informatif, yaitu keterkaitan antara kelompok Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah 9 dengan pondok pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat. Kesimpulan tersebut diperoleh Dewi, berdasarkan pengakuan langsung dari mas’ul atau aparat yang menjadi pemateri ketika ia menyusup sebagai anggota baru yang ingin diangkat sumpah setianya. (Halaman 62)

Monday, August 15, 2011

Kitab Para Pecinta

Sindo, 20 September 2011
Judul Buku: Mari jatuh Cinta Lagi
Penulis: Ibnu al-Dabbagh
Penerbit: Zaman
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 296 Halaman

Setiap gerak meniscayakan adanya tujuan. Manusia bersekolah seharusnya bertujuan agar bisa menambah pengetahuan, bekerja untuk memperoleh penghasilan, dan berpuasa dalam rangka menjalankan perintah-Nya pun memiliki tujuan tersendiri, yakni agar lebih dekat dengan Sang Pencipta (Allah). 

Demikian pula dengan kehidupan, dan tujuan hidup orang berakal sehat dan berkepribadian luhur hanyalah satu; mendapatkan kebahagiaan tertinggi, yang berarti kehidupan yang langgeng di alam malakut (akhirat), menyaksikan kehadiran Tuhan Yang Mahasuci, menikmati keindahan Ilahi nan Mahaluhur, dan menyaksikan secara langsung pancaran “cahaya suci” yang amat mengagumkan. Kebahagiaan, bahkan merupakan tujuan dari alam wujud ini, tumpuan tertinggi orang-orang berakal dan makna paling luhur yang hendak dicapai.

Namun, menurut Abdurahman bin Muhammad al-Anshari dalam buku berjudul Mari jatuh Cinta Lagi (aslinya Masyariq Anwar al-Qulub wa Mafatih Asrar al-Ghuyub) ini, kebahagiaan tersebut tidak dapat diperoleh hanya dengan indra lahiriah, tidak pula dengan kekuatan jasmani yang tersimpan di dalam susunan fisik. Karena keduanya hanya bisa menangkap dan menikmati hal-hal inderawi-materi semata, bukan yang sejati. (halaman 12)

Friday, July 29, 2011

Mesin Pembunuh Abad 20



Judul Buku: Lenin, Stalin dan Hitler: Era Bencana Sosial
Penulis: Robert Gellately
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Rina Buntaran dan Fairano Ilyas
Cetakan: I, 2011
Tebal: 897 Halaman

Abad 20 merupakan abad para pembunuh. Jutaan nyawa manusia melayang, dan darah manusia membanjir menggenang. Di daratan Eropa, tiga nama yang menjadi ikon kekejaman pada masa itu; Lenin, Stalin dan Hitler. Nama-nama tersebut selamanya akan dikaitkan dengan arah tragis sejarah Eropa pada paruh pertama abad 20.

Ketiganya merupakan diktator Soviet dan Nazi, produk perubahan struktural yang dipicu oleh Perang Dunia I. sebelum 1914, mereka hanyalah orang biasa yang sama sekali tidak berpeluang memasuki kancah politik. Namun, begitu “monster perang” dikobarkan, krisis sosial politik yang menerpa Eropa dan membuka peluang bagi para radikal dan utopis ini.

Lenin lahir pada 10 April 1870 dengan nama Vladimir Ilych Ulyanov, dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan di Simbirsk, Rusia. Ia mengikuti kebiasaan revolusioner Rusia yang menggunakan nama alias. Kakek dari pihak ibunya, Dr. Alexander Blank, berdarah Yahudi namun kehidupannya sama sekali tidak bersentuhan dengan tradisi Yahudi. (Halaman 31)

Wednesday, July 6, 2011

Berburu Misteri Alkemi

Judul Buku: The Alchemist’s Secret
Penulis: Scott Mariani
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Mei 2011
Tebal: 495 Halaman

Sebuah misteri selalu menarik untuk diselidiki. Terlebih misteri sebuah pengetahuan yang terpendam selama ribuan tahun dan memiliki kekuatan luar biasa; mengubah timah menjadi emas. Layaknya sebuah misteri, perburuan tersebut tidaklah mudah dan selalu penuh onak dan duri. Bukan hanya dikarenakan keberadaannya yang masih terpendam kabut misteri, namun tidak sedikit pihak yang memburunya menghalalkan segala cara.

Itulah cerita yang ditawarkan oleh Scott Mariani dalam buku berjudul The Alchemist’s Secret ini. Layaknya buku yang menyuguhkan suspense sebagai sajian utama, dalam novel setebal hampir lima ratus halaman ini adrenalin pembaca dipacu untuk turut merasakan ketegangan yang dialami para tokohnya. Selain itu, misteri demi misteri yang terungkap dalam setiap babakan cerita menjadi daya tarik tersendiri, itulah mengapa banyak pembaca gandrung akan novel sejenis ini.

Namun, tidak seperti novel lain yang sejenis, cerita di dalam buku ini begitu kaya akan data sejarah, terutama sejarah kelam Gereja. Sehingga, mau tidak mau pembaca akan membandingkannya dengan The Da Vinci Code karya Dan Brown yang masyhur. Selain itu, gaya bercerita dan alur Mariani sendiri memiliki kecenderungan sangat menyerupai Dan Brown. Meski demikian, hal itu bukan berarti karya ini merupakan pengekor atas Dan Brown, mengingat cerita yang ditawarkan jauh berbeda, meskipun terdapat keterpengaruhan yang kuat. 

Saturday, July 2, 2011

Mencari Pemimpin Bijaksana

Harian Seputar Indonesia, 3 Juli 2011

Judul BukuBe A Great Leader
Penulis: Erwin Tenggono
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 208 Halaman

Banyak yang menyatakan, bahwa Indonesia tengah mengalami krisis multidimensional. Namun, bila dicermati sejatinya krisis tersebut hanya berpusat pada satu hal; krisis kepemimpinan.

Padahal, Sebagaimana diketahui pemimpin merupakan ujung tombak sebuah organisasi, besar atau kecil. Pemimpin yang peduli terhadap rakyat dan bijaksana dalam mengambil keputusan memiliki peluang lebih besar untuk memajukan organisasinya, tinimbang pemimpin yang hanya sibuk mengurusi kepentingannya sendiri maupun golongannya. Dengan kata lain, baik-buruknya seorang pemimpin sangat menentukan laju roda organisasi yang di pimpinnya.

Secara definitif, pemimpin merupakan pribadi yang memiliki kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan (Kartono, 1994), Dalam konteks bernegara, seorang pemimpin haruslah sosok yang mampu mengejawantahkan apa yang diamanatkan Undang-undang dasar 1945, sebagai tujuan dari berbangsa dan bernegara.

Memang, tidaklah mudah menjadi sosok pemimpin yang benar-benar mampu mengayomi yang dipimpinnya, terlebih dalam dunia politik, meski hal demikian tidaklah mustahil. Akan tetapi, bukankah setiap manusia pada dasarnya merupakan pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri ? sehingga, siapapun pada prinsipnya harus belajar tentang bagaimana menjadi pemimpin yang bijaksana.