Kamis, 02 April 2015

Mengharap Mimpi Bertemu Nabi

Kabar Madura, 31 Maret 2015

Judul Buku: Mimpi Bertemu Nabi
Penulis: Juman Rofarif
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, 2014
Tebal: 262 Halaman

Muhammad saw. merupakan sosok yang keluhuran pekertinya menjadi pakem moralitas umat Islam secara keseluruhan. Beliaulah manifestasi dari muatan al-Qur’an. Kekasih Tuhan yang memilih hidup sederhana meski diberi pilihan untuk menjadi diraja dunia serta kekayaan berupa emas bergunung-gunung.

Posisinya sebagai rasul terakhir yang menyampaikan risalah Tuhan kepada manusia semakin mengukuhkan cinta umatnya. Tidaklah mengherankan jika bermiliar orang dari berbagai generasi setelahnya, begitu merindukan sosok agung tersebut. Pertemuan dengan pribadi yang meneduhkan itu menjadi dambaan bagi mereka yang mengimaninya, meski hanya dalam mimpi.

Padahal, tidak ada potret gamblang yang menampilkan sosok utuh sang Nabi. Karena mendokumentasikannya dalam sebuah gambar bagi umat Islam diyakini sebagai sebuah larangan, meski tidak ada nash al-Qur’an dan hadis yang secara tegas mengharamkannya. Sedangkan secara fisik Nabi sudah tiada empat belas abad yang lalu. 

Beruntung, para sahabat mewariskan deskripsi fisiknya. Menurut buku berjudul Mimpi Bertemu Nabi ini, Rasulullah memiliki sosok yang gagah. Tongkrongannya berwibawa. Secara fisik ia sangat ideal. Tidak memiliki cacat yang memungkinkannya menjadi bahan olok-olok orang-orang yang memusuhi dan menentang risalah yang ia dakwahkan.

Secara lebih detail, gambarannya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Musim, al-Tirmidzi, dan Ahmad bin Hanbal adalah bermata belo dengan hitam mata yang pekat dan putih mata yang bersih. Bulu mata yang lentik dan tampak selalu memakai celak padahal tidak. Berjanggut lebat. Memiliki dada yang bidang dan bahu yang tegap. Berkulit bersih. Lengan dan kakinya tapak kokoh. 

Postur tubuhnya proporsional, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek. Tegap jika berjalan. Dan jika ada yang memanggil, ia memiliki ciri yang khas, yaitu akan menengok dengan menghadapkan seluruh tubuhnya. (Halaman 19-20) Hal demikian tentu bukan karena lehernya kaku, namun sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang memanggilnya.

Meski demikian, Nabi pernah mendapatkan dua kali teguran dari Allah yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an. Yang pertama karena Rasulullah lupa menyematkan kata “insya Allah” sebagai etika ketika berjanji dan berencana. Kedua ditegur ketika Nabi mengacuhkan pertanyaan seseorang yang buta dan lebih memperhatikan kehadiran para tokoh terpandang. 

Buku ini bukan melulu hanya menjelaskan deskripsi Nabi, namun juga menyajikan kisah-kisah penuh hikmah yang menyelubungi seluruh hidupnya, para sahabat, serta orang-orang saleh yang patut diteladani oleh para pembaca. Salah satu kisah menarik dinukil dari sebuah kitab tasawuf yang telah berusia lebih dari seribu tahun karya Abu Qasim al-Qusyairi.

Suatu ketika, seorang sufi bernama Ma’ruf al-Karkhi sedang duduk-duduk bersama murid-muridnya. Kemudian lewatlah rombongan yang tampaknya sedang merayakan sesuatu. Mereka memainkan alat musik dan bernyanyi sambil meminum minuman keras. 

Beragam reaksi para murid sang guru sufi tersebut, namun secara garis besar mereka mengecam perilaku tersebut. Namun apa kata-kata yang keluar dari Ma’ruf al-Karkhi ? alih-alih murka dan mencela serta menyuruh para muridnya untuk menyerbu dan menganiaya rombongan tersebut, ia malah berdoa: “Ya Tuhanku, seperti mereka bisa bersenang-senang di dunia ini, buatlah mereka bisa bersenang-senang di akhirat nanti.” (Halaman 129)

Buku yang bisa dilahap dalam beragam waktu ini, tentu saja bukanlah sebuah buku hukum berisi fatwa-fatwa yang sifatnya mengikat. Sebaliknya, ia justru menghadirkan sisi lembut dalam beragama sebagaimana yang lazim ditemui dalam cara pandang kaum sufi.   

Simak saja kisah ketika seorang Majusi bertamu kepada Nabi Ibrahim. Nabi bersedia menjamu tamunya tersebut dengan syarat ia mau menyembah Allah. Namun si Majusi menolak permintaan tersebut dan lebih memilih pergi mengurungkan niatnya bertamu. 

Akibatnya, Tuhan lalu menegur Nabi Ibrahim atas sikapnya tersebut dengan mengatakan: ”Dalam lima puluh tahun kekufurannya, Aku tetap memberi kehidupan kepada majusi itu.” Disadarkan akan kekeliruannya, Ibrahim pun segera meminta maaf kepada si Majusi. (Halaman 207-208)  

Pesan-pesan moral serta pedoman spiritual yang disuguhkan dalam buku setebal dua ratus enam puluh enam ini dibungkus dengan kisah-kisah teladan dari sang Nabi serta orang-orang yang menjadikannya panutan. Hasilnya, selain substansi yang ingin disampaikan ke pembaca mudah dicerna, kesan yang dihasilkannya pun dapat melekat kuat di dalam benak.

Meski beberapa kisah di dalamnya sudah cukup populer di telinga masyarakat, namun cara Juman Rofarif, penulisnya, dalam mengambil kesimpulan menjadikannya tetap menarik untuk disimak. Terlebih, di awal setiap cerita penulis selalu menyelipkan parafrasa menarik yang menjadi ruh dalam masing-masing cerita tersebut

1 komentar: