Sunday, July 20, 2014

Konsep Ekonomi Sang Proklamator

Koran Sindo, 20 Juli 2014
 
Judul Buku: Ekonomi Berdikari Soekarno
Penulis: Amiruddin Al-Rahab
Penerbit: Komunitas Bambu
Cetakan: I, 2014
Tebal: xxxi+190 Halaman

“Berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerja sama internasional, terutama antara semua negara yang baru merdeka. Yang ditolak oleh berdikari adalah ketergantungan kepada imperialis, bukan kerja sama yang sama-sederajat dan saling menguntungkan.” Sukarno.  

Sosok Sukarno selama ini lebih dikenal kebanyakan orang sebagai ideolog, proklamator, sekaligus pemimpin yang melahirkan istilah Demokrasi Terpimpin. Sedikit yang mengetahui bahwa presiden pertama Republik Indonesia itu juga merupakan seorang konseptor ekonomi sebagaimana yang tertuang dalam kutipan di atas. Lebih tepatnya, disebut Ekonomi Terpimpin (ET) atau Ekonomi Berdikari.

Saturday, July 19, 2014

Dari Karangwuni untuk Indonesia

Lampung Post, 20 Juli 2014

Judul Buku: Melunasi janji Kemerdekaan
Penulis: Muhammad Husnil
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, 2014
Tebal: 300 Halaman

Siapa yang tidak tersentuh hati menyaksikan ratusan anak muda yang mestinya berada di puncak keasyikan menikmati hidup bergelimang gadget dan smartphone canggih, justru memilih menjadi tenaga pengajar di daerah-daerah terpencil.

Jangankan menikmati teknologi mutakhir, bisa mandi dan menikmati air bersih saja sebuah keistimewaan luar biasa. Para Pengajar Muda itu, demikian sebutan mereka, memang berbeda. Ketika kebanyakan anak muda seusia mereka menyerbu kota-kota besar berburu rupiah, mereka lebih memilih berbagi ilmu pengetahuan dengan anak-anak pedalaman.

Friday, July 11, 2014

Peran Ulama dalam Sejarah Kemerdekaan


Suara Merdeka, 8 Juli 2014



Judul Buku: Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad

Penulis: Zainul Milal Bizawie

Penerbit: Pustaka Compass

Cetakan: I, 2014

Tebal: 420 Halaman

Sejarah hanya ditulis oleh pihak pemenang. Demikian menurut sebuah pepatah, dan demikian pula yang terjadi dalam penulisan sejarah di Indonesia yang masih berkabut. Sehingga apa yang dibaca oleh generasi berikutnya atas sebagian masa lalu Indonesia sering terlihat kabur dan membingungkan.


Peminggiran sejarah juga terjadi atas kiprah kaum ulama-santri pada masa kemerdekaan. Meski kontribusinya dalam menegakkan Republik Indonesia sangatlah besar dan kasat mata, namun acapkali dilupakan. Padahal fakta membuktikan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda maupun Jepang justru paling efektif dan banyak dilakukan oleh kaum ulama-santri.

Monday, July 7, 2014

Kesederhanaan Empat Pemimpin Dunia

Koran Sindo, 15 Juni 2014

Judul Buku: Perjuangan dan Pengabdian Presiden Termiskin
Penulis: Zaenuddin HM
Penerbit: Kreasi Kata
Cetakan: I, Mei 2014
Tebal: 262 Halaman

Sejatinya seorang presiden bukan hanya pengelola administrasi dan penentu kebijakan negara dengan tujuan utama memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya. Lebih dari itu, seorang pemimpin juga harus menjadi sumber teladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Mulai gaya hidup hingga sepak terjang mereka sehari-hari.

Jika perilaku presiden sebagai pemimpin kerap mengumbar kebohongan dan janji yang tidak pernah ditepati, maka tidak mengherankan jika rakyat akan menilainya negatif. Bila kehidupan pemimpin terkesan glamour dan penuh kemewahan padahal rakyat yang dipimpinnya banyak yang hidup susah bahkan susah hidup, maka kegagalanlah yang akan dituainya.

Sunday, June 22, 2014

Menanti Implementasi Pancasila

Jawa Pos, 22 Juni 2014
 
Judul Buku: Mata Air Keteladanan, Pancasila dalam Perbuatan
Penulis: Yudi Latif
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Maret 2014
Tebal: 672 Halaman

Aksi kekerasan fisik yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bermaksud memaksakan kehendaknya secara inkonstitusional serta melanggar hukum terhadap pihak dan kelompok lain, akhir-akhir ini marak terjadi dan menghiasi berbagai pemberitaan media massa di Tanah Air.

Salah satunya adalah penyerangan terhadap rumah seorang warga yang menggunakan rumahnya sebagai tempat ibadah di Sleman, Yogyakarta. Bahkan sebuah makam yang ramai diziarahi warga juga menjadi sasaran perusakan beberapa orang yang tidak bertanggungjawab di kota yang sama.

Monday, June 2, 2014

Wajah sang Pengusung Khilafah

Judul Buku: Islam Syariat; Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia
Penulis: Haedar Nashir
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, 2013
Tebal: 698 Halaman

Runtuhnya rezim Orde Baru dan lahirnya era reformasi bukan hanya memberikan oksigen demokrasi kepada rakyat Indonesia, namun juga menjadi lahan subur tumbuhnya organisasi dan partai politik berorientasi ideologis yang memperjuangkan ajaran dan cita-cita Islam ke dalam institusi-institusi publik secara lebih terbuka dan formalistik.

Akan tetapi, minimnya antusiasme dan dukungan masyarakat Indonesia yang nota bene mayoritas beragama Islam terhadap partai politik yang menjadikan isu formalisasi syariat Islam sebagai jualan utamanya membuat satu persatu partai tersebut mundur secara teratur dan ibarat seleksi alam mereka akhirnya musnah ditelan zaman.

Saturday, May 24, 2014

Para Juru Damai Perang Salib

Koran Sindo, 25 Mei 2014
 
Judul Buku: Santo dan Sultan
Penulis: Paul Moses
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, 2014
Tebal: 411 Halaman

Perang Salib merupakan peristiwa monumental yang menandai sisi gelap para pemeluk agama dalam sejarah. Sejak pertamakali diluncurkan oleh Paus Urban II pada tahun 1095 dengan misi merebut Yerusalem dari tangan kaum muslim, tak terhitung nyawa manusia melayang dan kepala terpenggal dengan darah menggenangi bumi dari kedua belah pihak.

Tidaklah mengherankan, meski terjadi satu mileu yang lalu namun keganasan dan kengerian serta api peperangan masih memercik hingga kini pada sebagian orang. Sehingga tidak jarang sentimen Perang Salib dikobarkan demi menguak luka lama, dengan menggunakan jargon dan idiom yang digunakan pada masa itu.