Wednesday, December 14, 2011

Ondel-Ondel Penjaga Perdamaian Dunia

Koran Jakarta, 15 Desember 2011

Judul Buku: Ondel-ondel Nekat Keliling Dunia
Penulis: Luigi Pralangga
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, November 2011
Tebal: 314 Halaman

Tidak banyak orang yang berani meninggalkan pekerjaannya yang sudah mapan, demi mengejar sebuah impian masa kecil yang belum jelas betul kemungkinan suksesnya.

Itulah yang terjadi pada Luigi Pralangga. Jebolan kontes Abang None Jakarta yang rela meninggalkan karirnya pada sebuah perusahaan telekomunikasi di Tanah Air serta lingkungan sosialita Jakarta yang gemerlap, dan sangat mungkin selangkah lagi menjadikannya seorang artis nasional, namun kemudian lebih memilih terbang ke New York demi mencapai Kanada, negeri impian masa kecilnya. 

Bukan hanya itu, sebagaimana dikisahkan dalam buku berjudul Ondel-ondel Nekat Keliling Dunia ini, Luigi bahkan kemudian terseret ke negara-negara penuh konflik seperti Irak dan Liberia. Sebuah perjalanan yang sangat berbahaya namun tetap harus dijalani mengingat posisinya sebagai bagian dari tim misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).   

Saturday, December 10, 2011

Keajaiban dalam Secangkir Teh

Bisnis Indonesia, 11 Desember 2011

Judul Buku: The Miracle of Tea
Penulis: Mark “Dr. Tea” Ukra
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2011
Tebal: 328 Halaman

Tak ada masalah yang begitu besar atau buruk yang tak bisa dikurangi dengan secangkir teh yang nikmat. (Bernard-Paul Heroux)

Barangkali kalimat di atas sedikit hiperbolik, akan tetapi  ada benarnya jika obesitas yang menjadi masalah utama Anda. Karena ternyata teh bukan sekedar minuman kesehatan yang selama berabad-abad diakui hampir di seluruh dunia, tetapi juga the  memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membantu menghentikan krisis kesehatan terbesar di dunia tersebut.

Setidaknya demikian yang diungkap Mark “Dr. Tea” Ukra dalam buku berjudul The Miracle of Tea ini. Mengapa demikian? teh dengan bahan alami bukan hanya membantu mengurangi berat badan, tetapi juga mengurangi keinginan kita menyantap yang manis-manis, menekan selera makan, meningkatkan daya kerja insulin, mengurangi kolesterol, dan merangsang panas tubuh, yang membantu tubuh membakar lemak untuk energi.

Wednesday, November 23, 2011

Bertaruh Nyawa ke Tanah Suci


Judul Buku: Orang Kristen Haik Haji
Penulis: Augustus Ralli
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Agustus 2011
Tebal: 371 Halaman

Pada masa lampau, ketika orang Eropa hendak menyebrangi pintu gerbang menuju Mekah, mereka diminta menanggalkan agamanya. Orang yang menolak akan digantung dan ditancapkan ke dinding –dan lubang-lubang bekas tancapan itu masih ada hingga sekarang. (Augustus Ralli)

Bisa jadi deskripsi yang diungkapkan penulis di atas sedikit berlebihan, tapi bisa juga tidak. Mekah, bersama Madinah, menjadi dua kota suci umat Islam yang mendapat legitimasi langsung dari Allah dan Rasul-Nya melalui Qur’an dan Hadis. Keduanya dikenal sebagai Tanah Haram, sebuah kawasan yang jangankan manusia, bahkan binatang dan tumbuhan pun dilarang dibinasakan.

Namun, hukuman bagi kalangan nonmuslim yang menginjakkan kakinya di Mekah pun bukannya tidak ada. Charles M. Doughty, sebagaimana yang diungkapkan dalam buku berjudul Orang Kristen Naik Haji ini, menginformasikan bahwa pada setiap musim haji pasti terjadi eksekusi mati bagi beberapa orang Kristen yang terbukti masuk ke Tanah Suci secara ilegal. Kesaksian ini diperolehnya dari dua tentara di dalam iring-iringan rombongan jamaah haji Damaskus.

Sunday, November 20, 2011

Jejak Manusia Mencari Tuhan

Koran Sindo, 20 November 2011

Judul Buku: Sejarah Tuhan (Gold Edition)
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 673 Halaman

Kematian Tuhan yang dikumandangkan Friedrich Nietzsche pada 1882 menimbulkan guncangan putus asa dan gelombang kepanikan atas keyakinan sebagian kalangan teistik. Sebelumnya, upaya peminggiran Tuhan dari pentas kehidupan manusia sudah dilakukan oleh Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, dan kemudian diikuiti jejaknya oleh Sigmun Freud.   

Apa yang dilakukan para filosof dan saintis tersebut, seolah hendak menantang dan melarang pencarian Tuhan yang dilakukan selama ribuan tahun sepanjang sejarah manusia itu sendiri. Gagasan mengenai keberadaan “Tuhan” yang selama berabad-abad ditempa pada masyarakat Barat, nampaknya menjadi aneh dan tidak lagi memadai bagi mereka.

Padahal, Karen Armstrong dalam buku berjudul Sejarah Tuhan ini, mengungkapkan bahwa manusia merupakan makhluk spiritual. Ada alasan kuat untuk berpendapat bahwa Homo Sapiens juga merupakan Homo Religious. Hal ini sekaligus meruntuhkan asumsi bahwa Tuhan merupakan proyeksi kebutuhan dan hasrat manusia semata sebagaimana disenandungkan kaum ateis.

Bisa jadi, salah satu alasan mengapa agama tampak tidak relevan pada masa sekarang adalah karena banyak di antara kita tidak lagi memiliki rasa bahwa kita dikelilingi oleh yang gaib. Kultur ilmiah kita telah mendidik kita untuk memusatkan perhatian hanya kepada dunia fisik dan material di hadapan kita. Selain itu, Terlepas dari sifat nonduniawinya, agama sesungguhnya bersifat pragmatik. Sebuah ide tentang Tuhan tidak harus bersifat logis atau ilmiah, yang penting bisa diterima. (Halaman 23)

Monday, November 14, 2011

Prahara Cinta Gadis Tionghoa


Judul Buku: Rembulan Ungu
Penulis: Bondan Nusantara
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2011
Tebal: 511 Halaman

Hasrat manusia atas harta, tahta dan wanita nampaknya tidak pernah beranjak dari masa ke masa. Meski zaman berganti, sistem sosial politik sudah bergeser, bahkan meski (konon) peradaban manusia sudah maju sekalipun. Syahwat atas ketiganya, tak pernah redup dan tetap melekat pada diri manusia.

Itulah salah satu kesimpulan yang didapatkan setelah membaca Rembulan Ungu, sebuah epik berlatar kerajaan Mataram pada masa Amangkurat I. Buku karya budayawan Yogyakarta, Bondan Nusantara, ini secara lugas dan jelas membeberkan lakon yang terjadi pada masa penuh gejolak tersebut.

Bukan hanya itu, kepiawan Bondan dalam mebubuhi cerita membuat novel setebal lima ratus sebelas halaman ini begitu penuh warna, terutama dengan kehadiran tokoh muda yang meski menjadi lurah prajurit Mataram, namun tetap bisa berpikir objektif dan bersikap ksatria bernama Panjalu. 

Saturday, October 29, 2011

Cara Tepat Hidup Miskin


Judul Buku: Saga no Gabai Bachan
Penulis: Yoshichi Shimada
Penerbit: Kansha Books
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 245 Halaman

Bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di atas langit Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, diperkirakan menewaskan 140 ribu jiwa warga Hiroshima secara langsung dan efek radiasinya menyebabkan ratusan ribu yang selamat dari pemboman harus hidup dengan radiasi di sekujur tubuh. 

Selain itu, hancurnya infrastruktur di Hiroshima dan Nagasaki menyebabkan ekonomi negeri matahari terbit mengalami keruntuhan sehingga bagi yang selamat, selain terkena radiasi, kemiskinan merupakan sebuah kenyataan mengerikan yang membentang di hadapan mereka. Dua hal tersebut dialami oleh keluarga Yoshichi Shimada, penulis buku berjudul Saga no Gabai Bachan ini secara nyata. 

Dilahirkan di Hiroshima dengan nama asli Akihiro Tokunaga lima tahun setelah peristiwa tersebut, Shimada sejak balita sudah ditinggal mati ayahnya yang terkena radiasi. Nasib baik tidak kunjung menghampiri sering dengan perkembangan usianya. Shimada beserta kakak dan ibunya, tinggal di sebuah kawasan kumuh Hiroshima yang berdekatan dengan titik jatuh bom atom. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sang Ibu membuka usaha tempat minum (bar) sebelum akhirnya tutup dan menjadi pelayan.

Monday, October 17, 2011

Mengenal Sang Mujahid

Judul Buku: Jalan Jihad Sang Dokter
Penulis: Joserizal Jurnalis & Rita T. Budiarti
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2011
Tebal: 310 Halaman

Nama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) belakangan menjadi identik dengan perang, bencana alam atau kejadian luar biasa lainnya di Indonesia. Setiap ada peristiwa-peristiwa tersebut, bendera MER-C mesti berkibar di dalamnya. Namun, tentu saja keberadaannya bukan sebagai provokator atau laskar tambahan yang ikut berperang, sebaliknya kehadiran mereka di medan-medan konflik berperan sebagai tim medis yang menjalankan tugas-tugas kemanusiaan.

Lembaga yang dibentuk para alumni relawan Tual ini, dideklarasikan pada 14 Agustus 1999 di Jakarta. Berangkat dari pemikiran perlunya terbentuk sebuah tim medis yang lebih permanen sehingga penanganan kegawatdaruratan medis bisa lebih terkoordinasi. Mengingat selama ini, tim-tim bantuan medis serupa dibentuk secara dadakan, setelah bencana atau konflik meletus. Padahal kehadiran tim seperti ini sangat dibutuhkan para korban secara mendesak.

Lambangnya mengandung dua unsur, yakni bulan sabit merah sebagai simbol Islam, dan bola dunia yang berarti universal, rahmatan lil ‘alamin yang menjadi prinsip utama MER-C. Badan hukumnya berbentuk lembaga swadaya masyarakat dan berasaskan Islam. Para anggotanya merupakan relawan yang dalam setiap melakukan misi kemanusiaannya tidak dibayar (unpaid volunteers). Dan jika konflik dan bencana begitu identik dengan MER-C, maka ada satu nama yang saat ini begitu menyatu dengan lembaga ini; Joserizal Jurnalis !