Selasa, 26 Mei 2015

Jalan Panjang Sang Gerilyawan

Koran Tempo, 24 Mei 2015
 
Judul Buku: 693 KM; Jejak Gerilya Sudirman
Penulis: Ayi Jufridar
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, Januari 2015
Tebal: 310 Halaman

Sejarah boleh jadi ditulis hanya oleh para pemenang. Namun yang pasti, sejarah dikisahkan harus dengan kejujuran sehingga dapat menjadi dian yang menyigi keremangan bagi generasi mendatang, bukan mewariskan kabut gelap akan masa lalu. Karena rekayasa dan kebohongan yang menyejarah, hanya menunggu waktu terkuak sebelum lonceng kebenaran berdentang menghantam kesadaran zaman.

Selain itu, penulis yang menarasikan sejarah dan menghadirkan tokoh masa lalu sebagai cerita, diharuskan untuk melakukan riset secara mendalam sehingga memiliki wawasan yang cukup atas sosok yang hendak disuguhkan. Minimnya informasi bukan hanya membuat kisah yang ada menjadi miskin wawasan bagi pembaca, namun bangunan cerita juga akan semakin jauh dari realita.

Senin, 25 Mei 2015

Mengatasi Stres Pada Kaum Remaja

Koran Jakarta, 22 Mei 2015
 
Judul Buku: Panduan Mengatasi Stres Bagi Remaja
Penulis: Nicola Morgan
Penerbit: Gemilang
Cetakan: I, Januari 2015
Tebal: 310 Halaman

Ujian Nasional (UN) telah dihadapi para siswa yang berada di kelas IX dan XII. Meski bukan lagi menjadi parameter kelulusan sekolah, namun keberadaan UN dapat dipastikan memiliki dampak tersendiri bagi psikologi sebagian para siswa. Salah satu efek yang laten ditimbulkannya adalah stres.

Meski merupakan gejala umum yang dapat menghinggap siapa saja dan pada usia berapa saja, namun stres pada remaja tetap menjadi rentan mengingat pada fase ini merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Akan tetapi, stres pada remaja bukan lagi sebuah momok yang tidak dapat diatasi.

Sabtu, 23 Mei 2015

Menggugat Gagasan Khilafah

Jateng Pos, 17 Mei 2015

Judul Buku: Kontroversi Khilafah; Islam, Negara, dan Pancasila
Penulis: Komaruddin Hidayat (ed.)
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Desember 2014
Tebal: 279 Halaman

Wacana Islam kontemporer nampaknya selain dimonopoli oleh isu radikalisme agama, pula menyoal relasi Islam dan kekuasaan. Lebih konkret lagi, seputar pembentukan Negara Islam atau khilafah islamiyah. Meski telah lama menghantui, akan tetapi isu tersebut seakan menemukan momentumnya justru pada abad 21 ini.

Sebagai sebuah gagasan romatisisme, rumusan konsep pengusung khilafah selalu menjadikan masa lalu sebagai acuannya. Padahal sejarah juga membuktikan bahwa sistem khilafah hampir tidak pernah benar-benar mempersatukan umat Islam, namun masih diyakini para pendukungnya sebagai solusi atas beragam permasalahan umat yang dimandatkan Tuhan.