Rabu, 23 Juli 2014

Guru Sufi dari Tatar Sunda

Judul Buku: Abah Anom; Wali Fenomenal Abad 21 dan Ajarannya
Penulis: Asep Salahudin

Penerbit: Noura

Cetakan: I, Maret 2014

Tebal: 234 Halaman


Sejarah mencatat bahwa masuknya Islam ke Indonesia sehingga dapat menjadi agama mayoritas di kepulauan Nusantara, khususnya Pulau Jawa, merupakan atas kontribusi kaum tarekat. Islam yang didakwahkan ke masyarakat tidak melalui gerakan politik-struktural tetapi lewat jalur budaya. Budaya lokal tidak lantas dicap sebagai tidak islami, tetapi justrui dijadikan bagian budaya Islam.


Jejak akulturasi antara budaya lokal dan nilai keislaman dapat disaksikan hingga saat ini. Mulai dari arsitektur Masjid yang unik, hingga pagelaran Wayang (Kulit maupun Golek) yang banyak memuat pesan agama (Islam) yang kaya yang disampaikan baik melalui cerita yang telah dimodifikasi dari kisah aslinya yang bernuansa Hindu.

Minggu, 20 Juli 2014

Konsep Ekonomi Sang Proklamator

Koran Sindo, 20 Juli 2014
 
Judul Buku: Ekonomi Berdikari Soekarno
Penulis: Amiruddin Al-Rahab
Penerbit: Komunitas Bambu
Cetakan: I, 2014
Tebal: xxxi+190 Halaman

“Berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerja sama internasional, terutama antara semua negara yang baru merdeka. Yang ditolak oleh berdikari adalah ketergantungan kepada imperialis, bukan kerja sama yang sama-sederajat dan saling menguntungkan.” Sukarno.  

Sosok Sukarno selama ini lebih dikenal kebanyakan orang sebagai ideolog, proklamator, sekaligus pemimpin yang melahirkan istilah Demokrasi Terpimpin. Sedikit yang mengetahui bahwa presiden pertama Republik Indonesia itu juga merupakan seorang konseptor ekonomi sebagaimana yang tertuang dalam kutipan di atas. Lebih tepatnya, disebut Ekonomi Terpimpin (ET) atau Ekonomi Berdikari.

Sabtu, 19 Juli 2014

Dari Karangwuni untuk Indonesia

Lampung Post, 20 Juli 2014

Judul Buku: Melunasi janji Kemerdekaan
Penulis: Muhammad Husnil
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, 2014
Tebal: 300 Halaman

Siapa yang tidak tersentuh hati menyaksikan ratusan anak muda yang mestinya berada di puncak keasyikan menikmati hidup bergelimang gadget dan smartphone canggih, justru memilih menjadi tenaga pengajar di daerah-daerah terpencil.

Jangankan menikmati teknologi mutakhir, bisa mandi dan menikmati air bersih saja sebuah keistimewaan luar biasa. Para Pengajar Muda itu, demikian sebutan mereka, memang berbeda. Ketika kebanyakan anak muda seusia mereka menyerbu kota-kota besar berburu rupiah, mereka lebih memilih berbagi ilmu pengetahuan dengan anak-anak pedalaman.

Jumat, 11 Juli 2014

Peran Ulama dalam Sejarah Kemerdekaan


Suara Merdeka, 8 Juli 2014



Judul Buku: Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad

Penulis: Zainul Milal Bizawie

Penerbit: Pustaka Compass

Cetakan: I, 2014

Tebal: 420 Halaman

Sejarah hanya ditulis oleh pihak pemenang. Demikian menurut sebuah pepatah, dan demikian pula yang terjadi dalam penulisan sejarah di Indonesia yang masih berkabut. Sehingga apa yang dibaca oleh generasi berikutnya atas sebagian masa lalu Indonesia sering terlihat kabur dan membingungkan.


Peminggiran sejarah juga terjadi atas kiprah kaum ulama-santri pada masa kemerdekaan. Meski kontribusinya dalam menegakkan Republik Indonesia sangatlah besar dan kasat mata, namun acapkali dilupakan. Padahal fakta membuktikan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda maupun Jepang justru paling efektif dan banyak dilakukan oleh kaum ulama-santri.

Senin, 07 Juli 2014

Kesederhanaan Empat Pemimpin Dunia

Koran Sindo, 15 Juni 2014

Judul Buku: Perjuangan dan Pengabdian Presiden Termiskin
Penulis: Zaenuddin HM
Penerbit: Kreasi Kata
Cetakan: I, Mei 2014
Tebal: 262 Halaman

Sejatinya seorang presiden bukan hanya pengelola administrasi dan penentu kebijakan negara dengan tujuan utama memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya. Lebih dari itu, seorang pemimpin juga harus menjadi sumber teladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Mulai gaya hidup hingga sepak terjang mereka sehari-hari.

Jika perilaku presiden sebagai pemimpin kerap mengumbar kebohongan dan janji yang tidak pernah ditepati, maka tidak mengherankan jika rakyat akan menilainya negatif. Bila kehidupan pemimpin terkesan glamour dan penuh kemewahan padahal rakyat yang dipimpinnya banyak yang hidup susah bahkan susah hidup, maka kegagalanlah yang akan dituainya.