Sabtu, 18 Februari 2012

Suara Lain dari Israel

Jawa Pos 19 Februari 2012

Judul Buku: Gilad Atzmon
Penulis: Ahmad Syafii Maarif
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Februari 2012
Tebal: 147 Halaman

Berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948 yang diarsiteki kaum Zionis, disponsori Inggris, dan dilegalisasi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membuat kawasan Palestina tak henti bergejolak hingga kini, dan darah rakyat Palestina mengalir deras setiap hari membanjiri setiap jengkal tanahnya.

Setidaknya, 780.000 rakyat Palestina terusir dari tanah kelahirannya di tahun pertama negara Israel berdiri. Tahun 1980-an, jumlah tersebut mencapai 2 juta orang dan diperkirakan saat ini melonjak setidaknya dua kali lipat. Tidak sedikit pula yang dibunuh, dihalau, dan dibinasakan oleh pendatang Yahudi dari berbagai negara yang mengklaim bahwa Tanah Palestina adalah milik moyang mereka.

Rupanya, tidak semua keturunan Yahudi memiliki konsepsi yang sejalan dan setuju dengan semua kekejaman tersebut. Salah satunya bernama Gilad Atzmon, yang kemudian menjadi judul buku ini yang merupakan catatan reflektif seorang Ahmad Syafii Maarif, atas percakapan virtualnya dengan seorang Yahudi eks-serdadu Zionis tersebut.

Minggu, 12 Februari 2012

Ziarah ke Yerusalem

Koran Jakarta, 13 Januari 2012


Judul BukuJerusalem: The Biography
Penulis: Simon Sebag Montefiore
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, Januari 2012
Tebal: 822 Halaman


“begitu gigih diperjuangkan. Orang-orang di jalanan tergoda untuk mengetahuinya. Raja-raja dan para pemimpin berlomba-lomba untuknya” Demikian komentar sejarawan muslim yang sangat masyhur, Ibnu khaldun, mengenai kota ini.


Sebuah kota yang memiliki luas teritori hanya 100 x 150 mil, terbentang di antara sudut tenggara Mediterania dan Sungai Yordan. Meski demikian, Yerusalem, demikian nama kota ini, dulu pernah dipandang sebagai pusat dunia, pertarungan antar-agama Abrahamik, tempat suci bagi fundamentalisme Kristen, Yahudi, dan Islam yang kian populer.


Buku berjudul lengkap Jerusalem: The Biography ini, menceritakan secara kronologis melalui kehidupan laki-laki dan perempuan, tentara dan nabi, penyair dan raja, petani dan musisi, dan keluarga-keluarga yang telah membentuk dan menjaga serta memelihara Yerusalem selama beberapa milenia.

Kamis, 09 Februari 2012

Kuda Liar dari Blora

Majalah Gatra, Edisi 9-15 Februari 2012

Judul Buku: Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia
Penulis: Koh Young Hun
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, Desember 2011
Tebal: 407 Halaman

“Dia merupakan penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi, atau malah satu abad.” Demikian pujian yang disematkan Arnold Teeuw, kepada seorang legenda sastra Indonesia bernama lengkap Pramoedya Ananta Toer.

Pujian dari guru besar Bahasa dan Kesusastraan Melayu dan Indonesia di Universitas Leiden Belanda tersebut, hanyalah satu dari sekian banyak ungkapan penuh decak kagum yang disenandungkan orang sebagai bentuk apresiasi atas karya-karya seorang Pram. Berderet penghargaan diraihnya dari berbagai lembaga dan organisasi internasional, bahkan, berkali-kali ia sempat dinominasikan sebagai peraih Nobel di bidang sastra.

Uniknya, segala puja-puji dari luar negeri tidak berbanding lurus dengan perlakuan yang diterimanya dari pemerintah Indonesia. Pria kelahiran Blora 1925 ini begitu anomalistik; ia boleh dikata sebagai sastrawan Indonesia yang paling banyak menerima penghargaan dari dunia internasional, tetapi Pram juga salah satu sastrawan yang paling lama menghabiskan waktu di penjara, dan paling banyak melahirkan kontroversi. Karya-karyanya pernah dilarang beredar di Indonesia, dalam kurun waktu yang bersamaan ia kebanjiran puja puji dari luar negeri.   

Minggu, 05 Februari 2012

Membaca Arah Bisnis

Bisnis Indonesia, 5 Februari 2012
Judul Buku: Menyikapi Perubahan dalam Bisnis
Penulis: George Rifai
Penerbit: Kaifa
Cetakan: I, 2011
Tebal: 244 Halaman


Perubahan merupakan realitas yang tidak mungkin dihindari. Meski demikian, tidak sedikit orang yang merasa kurang sreg dengan adanya perubahan. Hal ini dikarenakan selain menuju ke arah yang lebih baik, perubahan juga berpotensi membawa kepada kemunduran bahkan kehancuran.

Kondisi demikian terjadi pula dalam dunia bisnis yang sarat dengan kompetisi, bahkan dengan arus perubahan yang lebih deras dan sukar ditebak. Namun, perubahan memiliki rumus yang sama dan universal: siapa pun yang mampu menangkap, mengelola, dan memimpin perubahan, dialah yang akan memenangkan persaingan.  

Kecermatan dalam membaca arah perubahan dalam bisnis menjadi syarat utama bagi pemenang. Sebaliknya, siapa pun yang mengabaikannya, bersiaplah untuk digilas, dilupakan, dan ditinggalkan oleh perubahan yang tak terbendung, hingga produknya dianggap usang dan ketinggalan zaman. Lalu, hal apa saja yang harus dicermati dalam membaca arah perubahan ? serta bagaimana fakta sejarah yang telah membuktikannya ?

Sabtu, 04 Februari 2012

Mengungkap Jejak Genealogis Al-Zaytun

Majalah Bhakti, Edisi Februari 2012

Judul Buku: Al-Zaytun; The Untold Stories 
Penulis: Tim Peneliti INSEP
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 238 Halaman

Sangat musykil, ketika menyebut Ma’had Al-Zaytun asumsi kita tidak tergiring untuk mengkaitkannya dengan sebuah gerakan underground yang dianggap berbeda, bahkan menyimpang dari mainstream yang ada.

Asumsi tersebut semakin kuat menjadi sebuah fakta, mengingat apa yang terpapar dalam buku berjudul lengkap Al-Zaytun; The Untold Stories; Investigasi Terhadap Pesantren paling Kontroversial di Indonesia ini. Secara benderang, dikatakan bahwa eksistensi pesantren yang terletak di Haur  Geulis, Indramayu Jawa Barat ini memiliki jejak genealogis yang bersumber pada Negara Islam Indonesia (NII).

Sebenarnya, gerakan NII pasca wafatnya Kartosuwiryo sendiri merupakan periode-periode yang sulit diketahui. Sejak tertangkapnya Kartosuwiryo pada 4 Juni 1962 dan adanya “ikrar bersama” sebagian mantan komandan Tentara Islam Indonesia (TII) untuk setia pada UUD 1945 dan Pancasila pada 1 Agustus 1962, gerakan tersebut bahkan dianggap sudah tamat.