Rabu, 23 November 2011

Bertaruh Nyawa ke Tanah Suci


Judul Buku: Orang Kristen Haik Haji
Penulis: Augustus Ralli
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Agustus 2011
Tebal: 371 Halaman

Pada masa lampau, ketika orang Eropa hendak menyebrangi pintu gerbang menuju Mekah, mereka diminta menanggalkan agamanya. Orang yang menolak akan digantung dan ditancapkan ke dinding –dan lubang-lubang bekas tancapan itu masih ada hingga sekarang. (Augustus Ralli)

Bisa jadi deskripsi yang diungkapkan penulis di atas sedikit berlebihan, tapi bisa juga tidak. Mekah, bersama Madinah, menjadi dua kota suci umat Islam yang mendapat legitimasi langsung dari Allah dan Rasul-Nya melalui Qur’an dan Hadis. Keduanya dikenal sebagai Tanah Haram, sebuah kawasan yang jangankan manusia, bahkan binatang dan tumbuhan pun dilarang dibinasakan.

Namun, hukuman bagi kalangan nonmuslim yang menginjakkan kakinya di Mekah pun bukannya tidak ada. Charles M. Doughty, sebagaimana yang diungkapkan dalam buku berjudul Orang Kristen Naik Haji ini, menginformasikan bahwa pada setiap musim haji pasti terjadi eksekusi mati bagi beberapa orang Kristen yang terbukti masuk ke Tanah Suci secara ilegal. Kesaksian ini diperolehnya dari dua tentara di dalam iring-iringan rombongan jamaah haji Damaskus.

Minggu, 20 November 2011

Jejak Manusia Mencari Tuhan

Koran Sindo, 20 November 2011

Judul BukuSejarah Tuhan (Gold Edition)
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 673 Halaman

Kematian Tuhan yang dikumandangkan Friedrich Nietzsche pada 1882 menimbulkan guncangan putus asa dan gelombang kepanikan atas keyakinan sebagian kalangan teistik. Sebelumnya, upaya peminggiran Tuhan dari pentas kehidupan manusia sudah dilakukan oleh Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, dan kemudian diikuiti jejaknya oleh Sigmun Freud.   

Apa yang dilakukan para filosof dan saintis tersebut, seolah hendak menantang dan melarang pencarian Tuhan yang dilakukan selama ribuan tahun sepanjang sejarah manusia itu sendiri. Gagasan mengenai keberadaan “Tuhan” yang selama berabad-abad ditempa pada masyarakat Barat, nampaknya menjadi aneh dan tidak lagi memadai bagi mereka.

Padahal, Karen Armstrong dalam buku berjudul Sejarah Tuhan ini, mengungkapkan bahwa manusia merupakan makhluk spiritual. Ada alasan kuat untuk berpendapat bahwa Homo Sapiens juga merupakan Homo Religious. Hal ini sekaligus meruntuhkan asumsi bahwa Tuhan merupakan proyeksi kebutuhan dan hasrat manusia semata sebagaimana disenandungkan kaum ateis.

Bisa jadi, salah satu alasan mengapa agama tampak tidak relevan pada masa sekarang adalah karena banyak di antara kita tidak lagi memiliki rasa bahwa kita dikelilingi oleh yang gaib. Kultur ilmiah kita telah mendidik kita untuk memusatkan perhatian hanya kepada dunia fisik dan material di hadapan kita. Selain itu, Terlepas dari sifat nonduniawinya, agama sesungguhnya bersifat pragmatik. Sebuah ide tentang Tuhan tidak harus bersifat logis atau ilmiah, yang penting bisa diterima. (Halaman 23)

Senin, 14 November 2011

Prahara Cinta Gadis Tionghoa


Judul Buku: Rembulan Ungu
Penulis: Bondan Nusantara
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2011
Tebal: 511 Halaman

Hasrat manusia atas harta, tahta dan wanita nampaknya tidak pernah beranjak dari masa ke masa. Meski zaman berganti, sistem sosial politik sudah bergeser, bahkan meski (konon) peradaban manusia sudah maju sekalipun. Syahwat atas ketiganya, tak pernah redup dan tetap melekat pada diri manusia.

Itulah salah satu kesimpulan yang didapatkan setelah membaca Rembulan Ungu, sebuah epik berlatar kerajaan Mataram pada masa Amangkurat I. Buku karya budayawan Yogyakarta, Bondan Nusantara, ini secara lugas dan jelas membeberkan lakon yang terjadi pada masa penuh gejolak tersebut.

Bukan hanya itu, kepiawan Bondan dalam mebubuhi cerita membuat novel setebal lima ratus sebelas halaman ini begitu penuh warna, terutama dengan kehadiran tokoh muda yang meski menjadi lurah prajurit Mataram, namun tetap bisa berpikir objektif dan bersikap ksatria bernama Panjalu.