Sabtu, 29 Oktober 2011

Cara Tepat Hidup Miskin


Judul Buku: Saga no Gabai Bachan
Penulis: Yoshichi Shimada
Penerbit: Kansha Books
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 245 Halaman

Bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di atas langit Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, diperkirakan menewaskan 140 ribu jiwa warga Hiroshima secara langsung dan efek radiasinya menyebabkan ratusan ribu yang selamat dari pemboman harus hidup dengan radiasi di sekujur tubuh. 

Selain itu, hancurnya infrastruktur di Hiroshima dan Nagasaki menyebabkan ekonomi negeri matahari terbit mengalami keruntuhan sehingga bagi yang selamat, selain terkena radiasi, kemiskinan merupakan sebuah kenyataan mengerikan yang membentang di hadapan mereka. Dua hal tersebut dialami oleh keluarga Yoshichi Shimada, penulis buku berjudul Saga no Gabai Bachan ini secara nyata

Dilahirkan di Hiroshima dengan nama asli Akihiro Tokunaga lima tahun setelah peristiwa tersebut, Shimada sejak balita sudah ditinggal mati ayahnya yang terkena radiasi. Nasib baik tidak kunjung menghampiri sering dengan perkembangan usianya. Shimada beserta kakak dan ibunya, tinggal di sebuah kawasan kumuh Hiroshima yang berdekatan dengan titik jatuh bom atom. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sang Ibu membuka usaha tempat minum (bar) sebelum akhirnya tutup dan menjadi pelayan.

Senin, 17 Oktober 2011

Mengenal Sang Mujahid

Judul Buku: Jalan Jihad Sang Dokter
Penulis: Joserizal Jurnalis & Rita T. Budiarti
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2011
Tebal: 310 Halaman

Nama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) belakangan menjadi identik dengan perang, bencana alam atau kejadian luar biasa lainnya di Indonesia. Setiap ada peristiwa-peristiwa tersebut, bendera MER-C mesti berkibar di dalamnya. Namun, tentu saja keberadaannya bukan sebagai provokator atau laskar tambahan yang ikut berperang, sebaliknya kehadiran mereka di medan-medan konflik berperan sebagai tim medis yang menjalankan tugas-tugas kemanusiaan.

Lembaga yang dibentuk para alumni relawan Tual ini, dideklarasikan pada 14 Agustus 1999 di Jakarta. Berangkat dari pemikiran perlunya terbentuk sebuah tim medis yang lebih permanen sehingga penanganan kegawatdaruratan medis bisa lebih terkoordinasi. Mengingat selama ini, tim-tim bantuan medis serupa dibentuk secara dadakan, setelah bencana atau konflik meletus. Padahal kehadiran tim seperti ini sangat dibutuhkan para korban secara mendesak.

Lambangnya mengandung dua unsur, yakni bulan sabit merah sebagai simbol Islam, dan bola dunia yang berarti universal, rahmatan lil ‘alamin yang menjadi prinsip utama MER-C. Badan hukumnya berbentuk lembaga swadaya masyarakat dan berasaskan Islam. Para anggotanya merupakan relawan yang dalam setiap melakukan misi kemanusiaannya tidak dibayar (unpaid volunteers). Dan jika konflik dan bencana begitu identik dengan MER-C, maka ada satu nama yang saat ini begitu menyatu dengan lembaga ini; Joserizal Jurnalis !