Kamis, 23 Juni 2011

Runtuhnya Watak Orang Jawa



ANALISInews.com



Judul Buku: Orang Jawa Jadi Teroris
Penulis: M. Bambang Pranowo
Penerbit: alvabet
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 255 Halaman

Kekerasan berbaju agama kembali mendera Indonesia. Kali ini Temanggung, Jawa Tengah dan Cikeusik, Banten menjadi medan unjuk kekuatan para perusuh. Meski dipicu hal yang berbeda –Temanggung disebabkan kemarahan terhadap pelaku penodaan agama sedangkan di Pandeglang karena isu laten seputar Ahmadiyah- namun tak pelak menggiring memori kolektif kita atas rentetan puncak kekerasan bertopeng agama, yaitu terorisme.

Peristiwa yang membuat Indonesia menjadi sorotan dunia ini, dimulai dari tragedi bom Bali jilid satu dan dua, peledakan hotel J.W. Marriot, hingga aksi pengejaran terhadap kawanan Nurdin M. Top dan Dr. Azhari. Karena pada dasarnya rangkaian kekerasan baru-baru ini di dua tempat berbeda di atas, serta perilaku para teroris tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu menggunakan agama untuk menjustifikasi tindakan tersebut.

Selain itu, satu hal yang menarik dari fenomena di atas adalah bahwa kasus-kasus tersebut justru terjadi di Pulau Jawa dengan pelaku kebanyakan dari suku Jawa, sebuah suku mayoritas di Indonesia yang selama ini dikenal dengan keramah-tamahan dan sopan santunnya. Inilah kegelisahan yang melanda pada diri M. Bambang Pranowo, penulis buku berjudul Orang Jawa Jadi Teroris ini.

Senin, 20 Juni 2011

Sang Penjaga Napas Proklamasi


Kompas.com, 21 Juni 2011

Judul BukuPresiden Prawiranegara
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Maret 2011
Tebal: 370 Halaman

Syafruddin Prawiranegara merupakan salah satu sosok penting bagi eksistensi berdirinya Republik Indonesia. Meski demikian, tidak banyak yang mengenal kiprah dan jasanya yang begitu besar. Bahkan hingga kini, usulan pengangkatan dirinya sebagai pahlawan nasional seolah menemui lorong gelap nan buntu.

Bisa jadi, keterlibatannya sebagai Perdana Menteri dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tahun 1958, membuat catatan perjuangannya sedikit “tercoreng”. Namun hal itu bukannya tanpa sebab, cengkeraman Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap pemerintahan Sukarno yang begitu kuat juga karena terjadinya ketimpangan sosial yang begitu menggila, menjadi alasan mengapa pemberontakan yang nota bene dilakukan oleh para mantan pejuang kemerdekaan itu meletus.

Pemberian amnesti dan abolisi bagi orang-orang yang tersangkut pemberontakan tersebut yang ditetapkan oleh Keputusan Presiden RI No. 449/1961 setelah dapat dipadamkan, menjadi sinyalemen kuat, betapa Sukarno sangat menghormati jasa-jasa sosok yang sederhana dan selalu mengenakan peci hitam ini. Perlakuan berbeda justru ditunjukkan oleh rezim otoritarian Orde Baru pimpinan Suharto, Syafruddin harus mengalami pencekalan, bahkan hanya untuk melakukan khutbah Idul Fitri. Perlahan tapi pasti, sosok dan jasanya seolah ter(di)kubur dalam lembaran usang sejarah.    

Jumat, 03 Juni 2011

Mantra Penguat Hati

Judul Buku: Ranah 3 Warna
Penulis: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2011
Tebal: 473 Halaman

Nampaknya, cerita yang mampu memotivasi pembaca sedang gandrung belakangan ini. Setelah Andrea Hirata sukses besar dengan Tetralogi Laskar Pelangi-nya, kini bak déjà vu kesuksesan serupa dialami oleh Ahmad Fuadi dengan trilogi Negeri 5 Menara-nya yang menjadi best seller. Genre ini bahkan diyakini akan booming dan menjadi trend kesusasteraan Tanah Air.

Namun keliru jika menganggap karya sejenis ini hanya menjual tema yang mengharu biru, nyatanya beragam penghargaan telah diraih oleh A. Fuadi atas novel pertamanya, Negeri 5 Menara, antara lain Nominasi Khatulistiwa Literary Award 2010 dan Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah pembaca Indonesia 2010. Gambaran sebuah pengakuan atas karya tulis yang dihasilkannya.

Kini sekuel dari Negeri 5 Menara telah lahir. Buku yang diberi judul Ranah 3 Warna ini, layaknya sebuah sekuel, kembali mengangkat cerita sosok Alif, sang tokoh utama dalam novel sebelumnya. Namun jika dalam buku pertama dihadirkan pengalaman Alif selama menimba ilmu di Pondok Pesantren Madani, dalam buku kedua ini A. Fuadi mengisahkan perjuangan Alif dalam menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi.