Selasa, 29 Maret 2011

Kiamat (Memang) Sudah Dekat

Judul Buku: Ensiklopedi Kiamat
Penulis: Umar Sulaiman al-Asyqar
Penerjemah: Irfan Salim, dkk.
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, 2011
Tebal: 710 Halaman
Geger kiamat 2012 sempat menjadi perbincangan sengit di kalangan masyarakat. Isu yang berawal dari ramalan suku Maya ini tak urung sempat menimbulkan kepanikan pada beberapa komunitas kecil di Barat dan menjadi perdebatan, bahkan menghiasi berita di beberapa media massa baik cetak maupun elektronik.
Kiamat, atau berakhirnya sebuah kehidupan di semesta pada dasarnya memang sebuah keniscayaan. Bukan hanya dogma agama yang berbicara demikian, namun juga berbagai disiplin keilmuan lain, seperti fisika. Jangankan jagat raya, bukankah manusia sendiri pun mengalami siklus datang dan pergi meninggalkan dunia. Terlebih dalam Fisika sendiri, terciptanya semesta akibat dari peristiwa ledakan besar (Big Bang), maka seperti itulah dunia ini diprediksi akan berakhir.
Sebagai sebuah peristiwa besar, terjadinya kiamat dipastikan menjadi salah satu dogma yang terkandung dalam agama. Terlebih, kiamat merupakan jembatan menuju dunia eskatologis, demikian pula dalam (agama) Islam. Risalah yang diturunkan oleh Tuhan melalui utusan (rasul)-Nya berupa informasi yang terkandung dalam wahyu Tuhan (al-Qur’an) jelas melampaui segala pengetahuan manusia. Sehingga bagi yang mengimani, segala sesuatu yang terkandung di dalamnya adalah kebenaran.

Minggu, 27 Maret 2011

Daya Gugat Sebuah Sajak

Judul Buku: Kepada Presiden yang Ter…..
Penulis: Bambang Oeban
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 180 Halaman

Siapa bilang karya sastra hanya jerit manja para pujangga yang jauh dari realita? Karya sastra memang kerap dituduh demikian. Bukan hanya karena gaya hidup para penulisnya yang cenderung ekslusif, kebanyakan tema yang dihasilkannya pun berkutat pada wilayah abstrak. Sedikit yang bersinggungan dengan hajat orang banyak.

Satu di antara yang sedikit itulah nama Bambang Oeban mencuat. Dia berani menyuarakan sajak yang menghentak, bukan hanya menyuarakan jerit hati kebanyakan masyarakat, namun juga memerahkan telinga penguasa. Dengan kata lain, Bambang bukan hanya mempertegas sosok sastrawan sebagai penghasil keindahan kata an sich, namun juga sarat akan suara kegetiran atas realita yang ada.

Buku berjudul lengkap Kepada Presiden yang Ter… ini –yang notabene merupakan kumpulan sajak-sajaknya- tidak melulu mempertontonkan keindahan berbahasa atau mementaskan kemampuan bersastra-ria penulisnya, tetapi di dalamnya juga berisi kritikan keras terhadap sosok pemimpin negeri ini, Presiden. Sebuah pembuktian tegas akan kepedulian sosok penulisnya atas kondisi riil bangsa, sekaligus membuktikan kecintaanya pada rakyat dan negara.

Kamis, 24 Maret 2011

Ratu Mata-mata Negeri Belanda

Judul Buku: Namaku Mata Hari
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama,Oktober 2010
Tebal: 559 halaman

Dilahirkan dengan nama Margaretha Geertruida Zelle di Leeuwarden, provinsi paling utara Belanda tahun 1876. Ayah berdarah Belanda tulen sedangkan ibu berasal dari suku Jawa. Belakangan, setelah dewasa dan menjadi janda lebih populer dengan nama Mata Hari.

Ia hidup di masa ketika tradisi Barat masih menempatkan perempuan sebagai pihak nomer dua. Imbas dari penafsiran Gereja atas Injil St. Paul yang diamini Barat, sehingga selama berabad-abad perempuan hanya menjadi pelengkap lelaki: obyek karikatur dalam teater, musik dan seni rupa.

Pada usia 14 tahun sang ibu meninggal dunia, dan pada usia 18 tahun ia menikah dengan seorang opsir Belanda berkebangsaan Skotlandia bernama Rudolph John Campbell MacLeod yang usianya dua kali lipat lebih tua. Ia diboyong sang suami ke Nederlandsch Indie, atau Hindia belanda, nama Indonesia masa kolonial. Namun Mata Hari lebih suka menyebutnya Indonesia, sesuai dengan yang disematkan ilmuwan Jerman Adolf Bastian, dalam bukunya yang terbit tahun 1884 dengan judul Indonesia Order die Insel des Malyschen Archipels.

Senin, 21 Maret 2011

Hibridisasi dalam Kisah Fantasi Modern

Judul Buku: The Iron King
Penulis: Julie Kagawa
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penerbit: Kubika
Cetakan: Pertama, Desember 2010
Tebal: 462 Halaman

J.K. Rawling bisa jadi merupakan pendongeng terpopuler saat ini. Cerita Harry Potter yang dikarangnya berhasil merebut hati jutaan pembaca dari berbagai penjuru dunia. Kisah mengenai keberadaan dunia sihir yang pararel dengan dunia Muggle (manusia biasa) ini bahkan ketika diangkat ke layar lebar pun mendapat apresiasi luar biasa dari penonton.

Meski hanya sekedar sebuah cerita, Harry Potter tetap menyisakan tanda tanya besar, yakni jika para penghuni di dunia sihir sedemikian hebat kemampuannya, mengapa mereka tidak melakukan invasi ke dunia manusia? Inilah salah satu perbedaan antara Harry Potter karya J.K. Rawling dengan The Iron King ini, meskipun sama-sama mengakui keberadaan “dunia lain”.

Berkisah tentang seorang remaja bernama Meghan Chase. Sejak kecil tidak ada hal istimewa dalam hidupannya, kecuali hilangnya secara misterius orang yang dianggap ayah kandungnya, tepat di pinggir kolam renang belakang rumah mereka. Pasca peritiwa tersebut sang ibu kemudian memutuskan untuk migrasi dan menikah lagi. Hingga kini, saat usianya menjelang enam belas tahun Meghan tinggal bersama Ibu kandung beserta Luke ayah tiri dan Ethan adik tirinya.

Kamis, 03 Maret 2011

Perempuan di Garis Batas


Judul Buku: Jihad Julia: Pemikiran Kritis & Jenaka Feminis Pertama di Indonesia
Penulis: Julia Suryakusuma
Penerbit: Qanita
Cetakan: Pertama, November 2010
Tebal: 240 halaman
Kesan pertama membaca judul buku ini adalah berisikan pemahaman Jihad, atau minimal di dalamnya memotret perjuangan menegakkan Jihad penulisnya. Namun rupanya asumsi tersebut buyar seiring dengan pembacaan yang saya lakukan atas muatan buku ini. 

Berisi pikiran-pikiran seorang penulis dan aktivis perempuan yang karya-karyanya lebih banyak lahir berbahasa Inggris daripada Indonesia bernama Julia Suryakusuma. Buku ini sendiri merupakan kumpulan tulisannya di The Jakarta Post dan Tempo Edisi Bahasa Inggris (TEBI).

Buku berjudul lengkap Jihad Julia: Pemikiran Kritis & Jenaka Feminis Pertama di Indonesia ini, hemat saya kurang sesuai dengan substansi yang dimaksud dalam tulisan-tulisannya dan pijaran gagasan dalam pemikirannya. Kata “Jihad” seharusnya lebih mengena dan pas bila diganti dengan “ijtihad”. Mengapa?