Sabtu, 29 Januari 2011

Optimalisasi Tujuh kekuatan Diri

Sindo, 30 Januari 2011
 
Judul Buku: Personal Power
Penulis: Ibrahim Elfiky
Penerjemah: Aisyah
Penerbit: Zaman
Cetakan: Pertama, Januari 2011
Tebal: 324 Halaman

Tahukah Anda bahwa otak manusia memiliki lebih dari 100 miliar sel saraf, dan jika semuanya digabung dan direntangkan dalam satu garis, panjangnya akan mencapai sekitar 1000 km? Selain itu, otak juga memiliki kapasitas untuk menerima 2 miliar bit informasi per detik dan lebih dari 60.000 pikiran setiap hari. Setiap pemikiran Anda lebih cepat daripada kecepatan cahaya, yaitu 180.000 mil per detik.

Demikian yang dikatakan oleh Dr. Eric H. Chudler dari Departemen Anestesiologi pada University of Washington yang dikutip oleh Ibrahim Elfiky, penulis buku berjudul lengkap Personal Power: Membuktikan 7 Rahasia Kekuatan Pribadi ini, dalam pendahuluannya. Meski melakukan kajian yang berbeda dengan Chudler, namun Keduanya -Elfiky dan Chudler- berusaha untuk membuktikan keunggulan manusia dibanding spesies lainnya dan menghasilkan kesimpulan serupa.

Sebagaimana yang tertera pada judulnya, dalam buku setebal tiga ratus dua puluh empat halaman ini Elfiky berusaha menggali, membuktikan dan membantu mengoptimalkan tujuh  potensialitas rahasia kekuatan pribadi yang tertanam pada diri pembaca. Dengan harapan agar setiap individu memiliki kehidupan yang lebih berhasil, lebih bermutu dan lebih memuaskan.

Kamis, 27 Januari 2011

Yuda Balaputra Dewa


Judul Buku: Percy Jackson & The Olympians: The Last Olympians
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: Pertama, Juni 2010
Tebal: 454 Halaman 
Apa jadinya jika para Dewa Yunani Kuno yang popularitasnya telah memudar digilas roda zaman ternyata diam-diam menjalin hubungan asmara dengan bangsa manusia hingga kini, bahkan menghasilkan keturunan? Bagaimana pula jika para Dewa tersebut yang ditahbiskan sebagai para penguasa jagat raya selama berabad-abad lalu terancam eksistensinya oleh kolaborasi pasukan monster dan Dewa pemberontak yang dipimpin seorang blasteran hasil perkawinan Dewa dengan bangsa manusia? 
Itulah saga yang ditawarkan Rick Riordan dalam pentalogi Percy Jackson and The Olympians ini. Namun Riordan tidak serta merta mengadaptasi mitologi tersebut bulat-bulat, secara imajinatif-kreatif ia memindahkan lanskap cerita tersebut dari pusat perdaban dunia masa lalu, Yunani, ke pusat peradaban dunia modern, Amerika. Disinilah para dewa tersebut tetirah, tidak tanggung-tanggung istana Olympus tempat tinggal para Dewa pun diboyong ke puncak gedung Empire State, di Manhattan.    
Sebagaimana yang tertera pada judulnya, seri ini menceritakan petualangan sosok Percy Jackson dengan para Dewa Olympus. Percy merupakan salah satu blasteran, sebutan bagi keturunan silang antara Dewa dan manusia. Ayahnya adalah Poseidon sang penguasa lautan dan ibunya bangsa manusia. Ia dan para blasteran lain, tinggal di Perkemahan tempat berkumpul dan belajar para blasteran, tepatnya di Pesisir Utara Long Island.

Selasa, 18 Januari 2011

Segenggam Asa atas Indonesia

Judul Buku: Indonesia Satu, Indonesia Beda, Indonesia Bisa
Penulis: Jimmy B. Oentoro
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 413 halaman

17 Agustus 2010 lalu, tepat Republik Indonesia merayakan dirgahayu kemerdekaannya yang ke-65. Untuk ukuran manusia, usia tersebut termasuk masa senja dimana ia bisa berleha dan pensiun menikmati hasil. Namun dalam konteks nation-state, tidaklah tergolong tua, walaupun juga tidak dapat dikategorikan seumur jagung. Pada titik ini, idealnya sebuah negara telah memiliki catatan atas capaian-capaian yang telah diraih atau minimal memiliki agenda konkrit yang menjadi pijakan kemana arah bangsa ini ke depan.

Sayangnya hal demikian nampaknya masih sekedar angan-angan utopis. Menilik dinamika Indonesia kini yang penuh tragedi. Bukan hanya disebabkan oleh banyaknya bencana alam yang seolah sedang mengantri berdesakan untuk menampilkan diri. Namun juga fenomena runtuhnya tatanan sosial masyarakatnya yang selama ini diagungkan sebagai ciri watak bangsa berbudaya adiluhung seperti gotong royong dan toleransi.

Kondisi demikian semakin diperparah dengan perilaku elit politiknya yang seolah-olah tengah berlomba untuk menginjak-injak pasal-pasal yang termaktub dalam dasar negara dengan menghalalkan segala cara dalam menggapai maupun melanggengkan kekuasaan.

Bagaimana sejatinya Indonesia dewasa ini? Mengapa di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi dengan kekayaan alam yang terhampar disetiap jengkal tanah maupun lautnya ini, kemiskinan begitu ganas menggerogoti rakyatnya berbanding lurus dengan kerakusan elitnya yang membiasakan korupsi layaknya makan nasi beserta rengekan fasilitas mewah yang dibiayai oleh uang rakyat tanpa diiringi prestasi yang berarti? Adakah setitik cahaya dan segenggam asa yang dimiliki Indonesia dalam menyongsong masa depannya? Itulah pertanyaan yang hendak dikuak dalam buku ini.

Minggu, 16 Januari 2011

Cinta Tak Mengenal Warna


Lampung Post, 16 Januari 2011

Judul Buku: The White Masai
Penulis: Corrine Hofmann
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penerbit: Alvabet
Cetakan: Pertama, November 2010
Tebal: 477 Halaman 
Inilah kekutan cinta. Ia tak perduli jarak ribuan kilo yang harus dilalui tetap ditempuh. Ia mampu merubah situasi pilu menjelma menjadi sebuah lagu merdu atau buku. Ia membuat manusia bak terpengaruh candu, apapun yang terjadi ngotot agar mendapatkan yang diinginkan. Sehingga tidak mengherankan jika para pujangga bersabda bahwa cinta membuat manusia buta. Cinta memang bisa membuat airmata terurai atau dunia menjadi indah, tapi tak jarang pula mencipta sejarah menjadi banjir darah bila dipahami dengan cara yang salah. 
Itulah kesan yang didapatkan sekaligus perasaan apresiatif atas buku The White Masai. Kisah karya Corrine Hofmann, penulis kelahiran Swiss ini menceritakan pengalamannya ketika melancong ke benua Afrika tepatnya Kenya, sebuah negara yang ternyata ditakdirkan menjadi bagian dalam hidupnya. Tak disangka ia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Lketinga, seorang lelaki pedalaman prajurit suku Masai. 
Ketika perempuan lain yang sebaya dengannya di Eropa berburu pria-pria berdompet tebal berwajah tampan dan berkulit putih, ia lebih memilih memperjuangkan dan mempertahankan cintanya tersebut. Keterbatasan bahasa, keterasingan budaya dan perbedaan pendidikan dihadapinya dengan tegar. Ia bahkan rela menghuni Manyatta, sebuah gubuk kecil tempat Lketinga dan suku Masai bertempat tinggal di belantara semak.   

Rabu, 05 Januari 2011

Menggugat Ideologi Teror!


Judul Buku   : Fiqh Jihad
Penulis         : Yusuf Qardhawi
Penerjemah  : Irfan Maulana Hakim dan Arif Munandar Riswanto
Penerbit       : Mizan
Tebal           : lxxxi+1260 Halaman
Cetakan       : Pertama, April 2010
Harga           : Rp. 265.000.

Pasca peristiwa 11 September, George W. Bush, Presiden Amerika saat itu, mempopulerkan terminologi terorisme. Dengan cepat, istilah ini kemudian menjalar ke seantero pelosok bumi dan mengenalkan istilah lain, radikalisme Islam. Mengingat telunjuk Bush yang mengarah kepada Islam garis keras al-Qaeda, pimpinan Osama bin Laden, dalang tragedi tersebut.

Seolah dikomado, Dunia, terutama Barat, pun kemudian menjadi Phobia dengan hal-hal yang berbau Islam, mulai dari yang formalistik seperti pakaian, maupun Konsep dan idiom dalam Islam, terutama Jihad.

Sebuah stigma yang tidak bisa disalahkan maupun dibenarkan sepenuhnya, mengingat dalam Islam sendiri terdapat nuansa pergolakan pemikiran cukup tajam: konservatif, liberal dan moderat. Konservatif memandang Islam sebagai agama yang ekslusif, umatnya tidak bisa bergandengan dengan pemeluk agama lain, dan menolak segala sesuatu yang datang dari budaya-budaya luar Islam.

Kelompok liberal menganggap sebagian ajaran Islam tidak memiliki kesesuaian dengan realitas modern, kaku terhadap perubahan zaman, dan kurang peka dengan kebutuhan masyarakat. Mereka tak segan-segan mengatakan bahwa syariat yang kurang menghargai rasa kemanusiaan tidak boleh di berlakukan dan harus dihapus ketentuannya, termasuk Jihad.

Senin, 03 Januari 2011

Soekarnois Menggugat!

Judul Buku: Bung Karno: The Other Stories 2, Serpihan Sejarah yang Tercecer
Penulis: Roso Daras
Penerbit: Imania
Cetakan: Pertama, September 2010
Tebal: 178 halaman

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Demikian kata-kata bijak bestari yang selalu kita dengungkan. Pengakuan dan perlakuan terhadap sosok pahlawan dengan demikian menjadi ciri utama kebesaran suatu bangsa karena hal itu menunjukkan bagaimana mentalitas bangsa tersebut.

Jika demikian, Lalu sebagai bangsa yang konon besar sudahkah kita membuktikannya dengan menghargai para pahlwan kita? Setidaknya ada tiga jenis “pahlawan” yang biasa kita dengar di negeri ini. Pahlawan devisa, pahlawan tanpa tanda jasa dan pahlawan nasional.
Pahlawan devisa biasa digunakan, terutama oleh pemerintah, kepada para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Peranan mereka demikian besar terhadap pemasukan devisa bagi negeri ini sehingga perlu disebut pahlawan devisa. 
Sayangnya, pemerintah negeri ini sepertinya tidak memperlakukan mereka layaknya pahlawan. Hampir tiap hari kita dengar nasib buruk menimpa para TKI, kasus-kasus penyiksaan, gaji tidak dibayar, pemerkosaan hingga pembunuhan serasa akrab ditelinga.