Kamis, 30 Desember 2010

Wisata ke Kota Nabi

Judul Buku: Ketika Nabi Saw. di Kota
Penulis: Nizar Abazhah
Penerbit: Zaman
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 603 Halaman

Muhammad Saw. merupakan sosok terpenting dalam komunitas muslim. Ia bukan hanya seorang penerima dan penyampai wahyu Tuhan kepada manusia, namun juga sosok yang interpretasinya terhadap wahyu tidak mungkin salah.

Sebagai makhluk pilihan Allah, hamba tersuci-Nya, dan orang yang dipercaya menerima wahyu-Nya. Rasulullah merupakan sosok yang ma’shum, dilindungi atas segala kekeliruan. Bahkan Allah memberinya fasilitas keistimewaan berupa syafa’at, untuk menyelamatkan umatnya di akhirat kelak.

Selain itu, sejarah membuktikan bahwa Nabi juga merupakan seorang insinyur yang jenius, pedagang yang brilian, panglima perang yang mumpuni, negarawan yang pandai dan politisi yang handal. Tidak sedikit kebijakan yang diambilnya merupakan cerminan langsung atas perintah Ilahi, namun tidak jarang pula merupakan representasi hasil inisiatif seorang manusia biasa yang lahir atas dasar pertimbangan-pertimbangan teknis rasional semata.

Salah satu maha karyanya adalah proyek mercusuar membentuk komunitas oase Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah, menjadi sebuah imperium penguasa jazirah Arab bahkan Dunia. Buku ini merupakan jejak rekam Nabi selama sepuluh tahun lebih membangun Madinah.

Rabu, 22 Desember 2010

Mengebor Misteri Lobi Israel

Judul Buku    : Dahsyatnya Lobi Israel
Penulis          : John J. Mearsheimer & Stephen M. Walt
Penerjemah  : Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan       : Pertama, Juli 2010
Tebal            : xvii + 731


Pasca berakhirnya Perang Dunia Kedua dengan panggung Eropa sebagai latar utama, bau amis darah akibat bara pertempuran saat ini menyengat kuat dari kawasan Timur Tengah. Di wilayah yang banyak melahirkan para Nabi ini, sang Malaikat Maut seperti enggan beringsut, memanen nyawa karena terjangan Tank-tank yang garang, tajamnya peluru atau pesawat-pesawat tempur yang seakan selalu haus darah tak pernah lelah terus berburu mangsa.

Namun tanah Palestina-lah sejatinya yang paling kerap memercikkan darah manusia saat ini. Horor kematian biasa ditebarkan pasukan Israel sehari-hari, sesering televisi nasional menyuguhkan sinetron kepada orang Indonesia. Bagi yang selamat, ibarat film berseri, ancaman kematian setia menanti di sepanjang episode berikutnya. Blokade Israel terhadap rakyat Palestina, menyebabkan ancaman kelaparan yang begitu nyata dan kematian merupakan kepastian yang segera menghampiri, sepasti naiknya harga sembako menjelang Idul Fitri.

Repotnya, sang Polisi Dunia seakan acuh, bahkan cenderung mendukung segala aksi yang dilakukan Israel. Hal ini tentu saja membuat banyak pihak mengernyitkan dahi, Amerika Serikat yang getol dengan isu Hak Asasi Manusia (HAM), seolah impoten menghadapi sepak terjang Israel yang menginjak habis-habisan nilai-nilai HAM.

Rabu, 15 Desember 2010

Sepercik Asa dalam Kepungan Ternoda


Judul Buku: The Forest of Hands and Teeth
Penulis: Carrie Ryan
Penerbit: Kubika
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 392 Halaman 

Timur dan Barat, nampaknya bukan sekedar merujuk pada perbedaan geografis, demografis, kultur, maupun paradigma berpikir, namun juga berpengaruh dan merembet terhadap pembentukan cerita yang selama ini dianggap wilayah supra rasional.

Betapa tidak? Jika di Timur, cerita mengenai makhluk dari dunia supernatural selama ini dijejali dengan hal-hal yang sifatnya immaterial-spiritual, seperti hantu, dedemit maupun spesimen lainnya yang mampu menembus dinding atau masuk ke dalam botol, tidak bisa dilihat dan disentuh oleh indera sembarang manusia.

Sedangkan pemahaman Barat terhadap kosmologi ini sangat kentara terpengaruh empirisme. Hantu dalam konteks masyarakat Barat pada umumnya muncul dalam wujud fisik dan nyata, mampu disentuh dan dibunuh, seperti vampir, manusia serigala dan zombie. Maka tidak mengherankan jika cerita-cerita bergenre ini dijejali sosok-sosok tersebut yang berperang melawan manusia.

Contoh yang paling sederhana adalah zombie. Dipahami sebagai mayat berjalan, yang telah terinfeksi sejenis virus yang diperoleh dari zombie yang sebelumnya pernah menggigitnya. Dalam kasus zombie, orang yang terkena dianggap telah mati, lalu entitas apa yang membuat sosoknya masih bisa “hidup“ dan berjalan? Entahlah. Di Timur, terutama Indonesia, fenomena orang hilang kesadaran dikenal dengan istilah kesurupan, tetapi itupun sifatnya hanya temporer.  

Sabtu, 04 Desember 2010

Soeharto di Mata Sang Adik



Judul Buku : Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto
Penulis : Alberthiene Endah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Juni 2010
Tebal : 684 Halaman
Harga : Rp. 165.000

Bahwa orang besar memiliki kharisma yang kuat rupanya bukan isapan jempol, terbukti pada sosok mantan presiden RI ke dua, Soeharto. Meski lebih dari tiga tahun pasca kematiannya, namun bayang-bayang kebesaran Jenderal bintang lima tersebut masih melekat erat pada para pengagumnya. Bahkan beberapa waktu lalu, sempat muncul wacana agar mantan penguasa Orde Baru tersebut disematkan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional.

Sulit disangkal, bahwa para pemujanya yang masih banyak tersisa hingga kini, kebanyakan merupakan orang-orang yang sangat diuntungkan ketika Soeharto berkuasa, tetapi setidaknya memiliki loyalitas dan tahu berterima kasih, dibanding sebagian besar lain yang sama-sama mereguk manisnya berlindung di balik ketiak kekuasaan Soeharto ketika memerintah, namun menjauh bahkan ikut menghujat, pada masa kejatuhannya.

Diantara yang sedikit itulah sosok Probosutedjo mengemuka, dan buku ini merupakan sebuah pembuktian akan loyalitasnya. Di dalam buku setebal 681 halaman ini, Probo menuturkan banyak hal yang diyakininya sebagai fakta sejarah yang sebagian belum diketahui publik.