Sabtu, 26 Juni 2010

Mantra Pengubah Nasib

Judul Buku: MYELIN: Mobilisasi Intangibles menjadi Kekuatan Perubahan
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Maret 2010
Tebal: xiv+ 346 halaman

Apa rahasia yang membuat perusahaan dengan aset dua puluh lima mampu membirukan Jakarta menjadi tujuh belas ribu taksi, dari tiga puluh orang pengemudi menjadi dua puluh lima ribu, dari empat kini menjadi empat ribu karyawan ? demikian pula dengan jumlah penumpang yang semula hanya berkisar ratusan pertahun kini menjadi tujuh juta orang perbulan, padahal sejak awal ia harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain yang sarat pengalaman dalam bidang transportasi dan mendapat kemudahan dari pemerintah, sulit dipercaya namun itulah yang terjadi dengan Blue Bird Group.

Rahasia apa pula di balik kesuksesan sebuah perusahaan instalasi listrik untuk perumahan dan perkantoran kemudian beranak-pinak dan bermutasi menjadi kontraktor bangunan, mendirikan pabrik-pabrik beton hingga merambah ke dunia baru, yaitu pabrikan dalam bidang komponen otomotif. Sebuah keberanian yang bukannya tidak mengandung resiko kegagalan, namun WIKA, demikian nama perusahaan tersebut kependekan dari Wijaya Karya, terbukti sukses melewati semua fase dan proses dalam usaha tersebut.

Jumat, 25 Juni 2010

Gurita Bisnis di Indonesia


 
Judul : 50 Great Business Ideas
from Indonesia
Penulis: M. Ma’ruf
Penerbit : Hikmah, Jakarta
Tahun : I, Januari 2010
Tebal : 328 halaman
Harga : Rp.64.000

“Apa pun makanannya, minumnya teh botol Sosro.” Jargon tersebut nyaris menghiasi seluruh rumah makan di seantero Nusantara, bahkan kerap ditayangkan media massa, baik cetak maupun elektronik, sehingga akrab di mata dan telinga kita.

Orang mungkin sulit membayangkan bahwa kemasan teh botol yang kita kenal saat ini lahir hanya dari sebuah strategi pasar untuk mengatasi merosotnya harga teh secara terusmenerus.

Penemunya, Sosrodjojo, pertama kali menjualnya pada 1940 dalam kemasan teh kering siap saji bermerek dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Slawi, ke sejumlah pasar di sana secara eceran.

Hijrah Sebagai Tonggak Sejarah


Judul Buku: Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam
Judul Asli: Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes
Penulis: Tamim Ansary
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, tahun 2010

Selama ini persepsi mengenai sejarah dunia selalu terbentuk dengan asumsi bahwa Barat (Eropa) sebagai pusat episentrum dari pergerakan yang ada di seluruh dunia, yang lain hanyalah periferi yang berfungsi sebagai pelengkap dari terbentuknya sejarah Barat.

Dengan kata lain ketika menyebut kata “Dunia” maka yang dimaksud oleh kata itu identik dengan Dunia Barat. Asumsi dan paradigma inilah yang ingin dirubah oleh Tamim Ansary, penulis buku ini. Konsepsi modern tentang sejarah dunia yang meminggirkan bahkan menihilkan eksistensi kaum muslimin, termasuk peradaban lain seperti china, dalam narasi besar dunia.

Marginalisasi ini bukanya tanpa sebab, persaingan, konfrontasi bahkan peperangan yang sering terjadi antara Islam dan Barat merupakan salah satu alasannya, selain itu juga dikarenakan konsepsi modern yang terbentuk saat ini merupakan konstruksi Barat-sentris mengingat mereka penguasa peradaban saat ini.

Sepatu Melayang Menerjang Biang Perang

 
Judul Buku: Good Bye Bush: Sepatu Perpisahan dari Baghdad
Penulis: Muhsin Labib
Penerbit: Rajut Publishing
Cetakan: Pertama, Januari 2009
Tebal: 96 halaman


Konon, sepatu berfungsi terutama sebagai alas pelindung kaki dari kerikil atau benda-benda tajam di jalanan, seiring dengan perkembangan selera “peradaban”, kemudian sepatu bukan hanya sebagai alat pelindung kaki, juga menunjukkan prestise dan kelas sosial pemakainya yang dalam dunia konsumerisme-hedonisme diukur dengan gaya dan popularitas (baca: Trade Merk) sepatu tersebut.

Namun, di tangan Muntadhar al-Zaidi fungsi sepatu tidak hanya sebatas pelindung alas kaki maupun pengukur kelas sosial seseorang, tetapi juga ternyata cukup ampuh digunakan sebagai senjata ideologis yang efektif untuk melakukan resistensi terhadap kepongahan Adidaya Amerika Serikat, juga secara sukses meruntuhkan kewibawaan sang Agresor tanpa tanding yang merasa seolah-olah menjadi presiden seluruh dunia itu.
George W. Bush agaknya pantas disebut sebagai Presiden tersial di dunia sepanjang tahun 2008, Presiden Amerika yang menjadi penggagas invasi militer ke Irak dan Afganistan hingga menewaskan ratusan ribu warganya inilah yang menjadi sasaran pelemparan sepatu oleh al-Zaidi pada tanggal 14 Desember 2008 dan pastinya takkan terlupakan oleh Bush hingga ke liang lahat.

Cahaya Berhaji


Judul Buku: Terapi Hati di Tanah Suci: Ya Allah Jadikan Aku Cahaya
Penulis: Hernowo
Penerbit: Lingkar Pena Kretiva
Cetakan: Pertama, September 2008
Tebal: 200 halaman

Di dalam Islam, ibadah haji menempati posisi terakhir dari rukunnya yang lima. Setelah Syahadat, Shalat, Zakat dan puasa. Apabila rukun yang pertama hingga keempat semua muslim wajib melaksanakannya, sedangkan ibadah haji hanya diwajibkan kepada mereka yang benar-benar mampu baik secara finansial, mental hingga kesehatan fisiknya. Hal ini dikarenakan haji hanya dimungkinkan terlaksana bila kita mampu melaksanakan perjalanan untuk berkunjung ke rumah Allah (bait allah) di Makkah juga ritual lainnya di Madinah, dua kota suci umat Islam yang terletak di Jazirah Arab. Inilah merupakan salah satu ke "unikan" dari ibadah ini.

Sebagai sebuah perjalanan ibadah yang spesial dan cukup panjang, di dalam melaksanakan haji tentu saja didapati beraneka pengalaman religiousitas (religious experiences) oleh pelakunya sehingga dari pengalaman tersebut diharapkan membekas dan mampu merubah semua aspek kehidupannya menjadi lebih baik, atau yang dikenal dengan istilah haji mabrur. Inilah yang menjadi point utama buku ini, penulisnya (Hernowo) hendak sharing pengalaman pribadinya kepada pembaca, terutama calon jama'ah haji, bagaimana ritualitas yang dilakukannya selama menjalankan ibadah haji dan apa yang dirasakannya setelah menjadi tamu Allah tersebut, selain itu kelebihan buku ini juga mengajarkan kepada pembaca bagaimana metode menghimpun pengetahuan mengenai ibadah haji dari berbagai buku yang dianggap cukup praktis sehingga memudahkan calon jama'ah dalam melaksanakan ibadahnya.

Plus-Minus Front Pembela Islam (FPI)


Judul Buku: Hitam-Putih FPI (Front Pembela Islam)
Penulis: Andri Rosadi, Lc, M.Si.
Penerbit: Nun Publisher
Cetakan: Pertama, Juli 2008
Tebal: 240 Halaman.

Mungkin jawaban yang ada di benak saya, tidak jauh berbeda dengan anda pembaca ketika ditanyakan, organisasi masyarakat (ormas) apa yang identik dengan aksi kekerasan? Atau bila lebih dikerucutkan lagi siapa tokoh yang saat ini dikenal paling “garang” dalam menyampaikan pandangan-pandangan keagamaannya, terutama dalam hal penegakan ‘amar ma’ruf nahi munkar dan pembubaran aliran Ahmadiyah?

FPI dan Habib Rizieq Shihab adalah dua nama yang secara spontan mungkin terlintas untuk menjawab dua pertanyaan di atas. Keduanya bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Maklum sang Habieb, yang keturunan tokoh legendaris Betawi si Pitung dan juga secara geneologis merupakan ahlul-bait keturuanan Rasulullah saw. ini, merupakan pendiri utama ormas tersebut. Sehingga bisa dikatakan bahwa FPI adalah representasi dari Habieb Rizieq, ia adalah pusat wacana sekaligus produsen kebenaran yang linuwih tak tertandingi hingga kini bagi ormas tersebut.

Meskipun hal tersebut bukan jaminan untuk tidak terjadinya “pembusukan” dari internal FPI sendiri, mengingat tidak sedikit yang mencatut nama dan pengaruh Habieb maupun FPI, justru untuk mengeruk kepentingan pribadi. Sehingga kemudian terjadi friksi yang dikenal istilah FPI hitam, yang mbalelo dan menyimpang, dan FPI putih, yang konsisten pada garis perjuangan organisasi.

Sang Gandhi dari Amerika

Judul Buku: Hebron Journal: Catatan Seorang Aktivis Perdamain dari Amerika yang Melawan Kekejaman Israel di Palestina dengan Jalan Cinta dan Anti-Kekerasan
Judul Asli: Hebron Journal: Stories of non Violence Peacemaking
Penulis: Arthur G. Gish
Penerbit: Mizan
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal: 550 halaman

“Tiga tentara (Israel) mengacungkan senapan mereka dan menghampiri sekelompok orang Palestina yang menonton. Aku menduga mereka akan menembak orang-orang itu. Aku segera menghambur ke hadapan tentara-tentara itu, mengangkat kedua tanganku, dan berteriak, “tembak aku, tembak aku, ayo tembak aku!” Tentara-tentara itu langsung menyingkir.

Sebuah Tank datang menderu ke hadapanku, moncong raksasanya mengarah kepadaku. Aku mengangkat kedua tanganku di udara, berdoa, dan berteriak, “Tembak, tembak, “Baruch hashem Adonai (Terpujilah nama Tuhan)” tank itu berhenti beberapa inci di hadapanku.

Aku lantas berlutut di jalanan, berdoa dengan tangan terangkat di udara. Aku merasa sendiri, lemah, tak berdaya. Aku hanya bisa menjerit kepada Tuhan.”

Nalar “Pembela” Tuhan


Judul buku: 5 Tantangan Abadi Terhadap Agama dan Jawaban Islam Terhadapnya
Judul Asli: God, Islam and The Skeptic Mind: A Study on Faith, Religious Diversity, Ethics, and The Problem of Evil
Penulis: Saiyad Fareed Ahmad & Saiyad Salahuddin Ahmad 
Penerjemah: Rudy Harisyah Alam Penerbit: Mizan Pustaka
Cetakan: I, April 2008
Tebal: 333 halaman.

Benarkah ada Tuhan di tengah dunia yang tak menentu penuh konflik, kecurangan dan segala keburukan ini? Atau adilkah Tuhan yang membuat ratusan ribu warga Porong mengungsi karena semburan lumpur, namun Ia justru membuat semakin kaya pemilik perusahaan yang punya andil besar atas bencana tersebut? Dimanakah peranan agama ketika para pemeluknya justru “menciptakan” negara yang dikenal terkorup di dunia? Itulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menggelayut dibenak kita. Dan, kurang-lebih, pertanyaan-pertanyaan senada dengan di atas yang ingin di perdebatkan dalam buku setebal 333 halaman ini. Secara garis besar penulisnya, duo Malaysia Saiyad Fareed Ahmad dan Saiyad Salahuddin Ahmad, mencoba untuk mengelaborasi tiga pertanyaan mendasar, yakni mengenai Tuhan, Agama dan Moralitas dalam bingkai perspektif Islam.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya merupakan pertanyaan usang, namun selalu aktual terhadap eksistensi sebuah agama. Belakangan “menentang” Tuhan bahkan sudah menjadi tren tersendiri yang muncul dalam format gagasan-gagasan seperti sekularisme, materialisme, saintisme, evolusionisme, dan ideologi-ideologi modern lainnya yang diangggap lebih memadai dalam menjawab tantangan jaman.

Reformer Menggugat Inlander

Judul Buku: Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia
Penulis: Mohammad Amien Rais
Penerbit: PPSK Press
Cetakan: ekstra, 2008
Tebal: 298+xviii halaman

Kolonialisasi yang dipraktikkan selama 350 tahun oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang terhadap bangsa Indonesia nampaknya tidak pernah membuatnya jera dan berusaha merdeka secara paripurna, sebaliknya perilaku elitnya seolah merindukan masa tergelap dalam sejarah Indonesia tersebut. Gelagat ini setidaknya tercermin dari beberapa transaksi ekonomi, maupun politik, yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan beberapa korporasi asing.

Menariknya, praktik tersebut justru bukan terjadi pada masa konsolidasi, Orde Lama, maupun hanya pada masa Orde Baru yang identik dengan era ketertutupan penuh praktik manipulatif terhadap rakyat, “kegilaan” ini justru terus langgeng hingga pada masa keterbukaan, Reformasi. Modus operandinya jauh lebih canggih daripada masa-masa sebelumnya. Dulu dengan moncong senjata, kini lewat iklan media massa. Dulu kolonialisasi, kini globalisasi.

Kala (Janji) Syurga Menjadi Neraka

Judul Buku: Ustadz Saya Sudah di Syurga
Penulis: Mohammad Guntur Romli
Penerbit: KataKita
Cetakan: Pertama, Agustus 2007
Tebal : xviii+ 296 halaman

Bonanza aksi terorisme yang berlabelkan Islam (baca: fundamentalisme Islam), dewasa ini seolah-olah semakin memperkuat asumsi yang tertanam di Barat, bahwa Islam adalah agama yang intoleran, gandrung pada kekerasan dan menjustifikasi perilaku anarkis-destruktif. Bopeng wajah Islam dalam stereotif Barat ini disisi lain, juga menunjukkan kekerdilan mentalitas dan kepicikan paradigma berpikir sebagian kaalangan umat Islam yang meresahkan sekaligus menggelikan. Betapa tidak, kemajuan suatu bangsa atau agama lain hanya mampu direspons oleh beberapa dengan cara-cara yang memalukan seperti bom bunuh diri, teror dan tindakan kekerasan lainnya, celakanya lagi tindakan tersebut diyakini sebagai perintah Tuhan yang harus dilakukan sebagai konsekuensi dari keyakinan terhadap agama (Islam), pahala (reward) bagi yang melakukakannya dan siksa (punishment) bagi yang tidak.

Harus diakui secara jujur bahwa bukan hanya Islam yang potensial terhadap aksi fundamentalisme, pada dasarnya semua agama memilikinya. Karena sebagaimana yang dicatat Karen Amstrong dalam Berperang Demi Tuhan, 2001, bahwa semua agama pernah mengalami peperangan yang mengatasnamakan (agama) Tuhan, hal ini terjadi karena agama kerapkali membawa hal-hal yang sakral ke dalam urusan politik dan negara (profan).

Menggagas (kembali) Islam Kosmopolit

Review Book: Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan
Penulis : KH. Abdurrahman Wahid
Tebal : xxxvii + 397 halaman
Editor : Agus Maftuh Abegebriel, Ahmad Suaedy
Penerbit : The Wahid Insitute, 2007

Maraknya aksi fundamentalisme Islam dan booming aliran yang dicap sesat di Indonesia saat ini, seolah-olah semakin memperkuat asumsi bahwa Islam agama yang intoleran, cenderung pada kekerasan dan anti modernitas, ataupun dalam sisi yang lain bisa dikatakan gagal dalam membina keberagamaan umatnya. Betapa tidak, kemajuan bangsa atau agama lain hanya mampu direspons oleh beberapa kalangan umat Islam dengan cara-cara yang memalukan seperti bom bunuh diri, teror dan tindakan kekerasan lainnya, celakanya lagi tindakan tersebut diyakini sebagai perintah Tuhan yang harus dilakukan sebagai konsekuensi dari keyakinan terhadap agama (Islam) itu sendiri.

Krisis figur pemimpin keagamaan tersebut di sisi lain juga memicu kretifitas umat yang cenderung ngawur, karena kehilangan kepercayaan terhadap tokoh agamanya, orang lebih menyukai bersemedi dipinggir kali maupun menyepi di puncak gunung untuk mencari solusi kehidupan (wahyu/wangsit), sehingga kemudian memproklamirkan diri sebagai Mahdi, Messias bahkan Nabi baru seperti yang terjadi pada kasus Ahmad Musaddeq dan Lia Aminuddin, yang pada akhirnya pun ikut dinyatakan kafir dan sesat oleh para kalangan agamawan juga. Tak ketinggalan rigiditas kalangan umat Islam dalam menghadapi modernitas pun tidak memperlihatkan kemajuan signifikan, hal ini terbukti dalam beberapa kalangan umat Islam dewasa ini masih terdapat pemahaman bahwa modernitas sesuatu yang harus ditolak dan dilawan.